Pendahuluan (Wahyu dan Ijtihad)
Islam yang dibawa oleh Rosulullah Muhammad ﷺ
adalah penyempurna “Islam” umat terdahulu. Sebagaimana ayat di bawah ini
ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ
عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينٗا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku
cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agamamu.”
QS. Al-Maidah:3
Mayoritas mufassirin berpendapat ayat tersebut diturunkan
saat peristiwa Haji Wada’ (secara arti disebut Haji perpisahan) dimana
tak lama berselang peristiwa tersebut (sekitar 3 bulan) beliau kembali ke
pangkuan Ilahi.
Paripurnanya Al-Qur’an yang Allah wahyukan kepada Muhammad ﷺ dengan
diwafatkannya beliau menjadi pertanda bahwa Islam sudah sempurna secara prinsip
dan ajaran (syariat). Hal tersebut menandakan, pintu wahyu telah dikunci
sehingga dusta besar jika ada makhluk setelahnya mengklaim menerima wahyu Ilahi.
Kendati demikian, beliau ﷺ telah berpesan agar
tetap mengikuti Sunnahnya dan Sunnah para pengganti yang Allah berikan petunjuk
kepadanya,
عَلَيْكُمْ
بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي،
تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para
khalifah yang mendapat petunjuk setelahku. Peganglah ia erat-erat dan gigitlah
dengan gigi geraham (genggam yang kuat).”
HR. Tirmidzi
Namun, masa kekhalifahan yang oleh Rosulullah ﷺ digaransi kebenarannya hanya dinubuatkan
selama tiga puluh tahun. Setelah itu adalah masa kerajaan (seperti kerajaan
pada umumnya) yang probabilitasnya benarnya 50% dan salahnya juga 50%,
tergantung kesalihan penguasa/umaro dan ulama di sekitarnya apakah berpegang
teguh pada Al-Qur’an dan Hadist atau tidak, sebagaimana hadis di bawah ini
الْخِلَافَةُ
بَعْدِي ثَلَاثُونَ سَنَةً، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا
“Khilafah setelahku berlangsung selama tiga puluh tahun, kemudian
setelah itu menjadi (zaman) kerajaan.”
HR. Abu Daud
Era setelah kenabian inilah yang kelak oleh para fuqoha (ahli fikih
Islam) disebut era Ijtihad, dimana di saat ruang wahyu telah tertutup,
para Mukminin yang hidup setelahnya sampai hari akhir kelak akan menjumpai
persoalan-persoalan yang bisa jadi sama dengan persoalan di era Nabi dan Sohabat
atau persoalan yang benar-benar baru (kontemporer) yang bahkan belum
terpikirkan manusia di zaman dahulu. Kendati demikian, seperti yang kami
sampaikan di muka, Islam telah paripurna dan semua prinsip dan ajarannya sudah
cukup sebagai petunjuk manusia (hudallinnas) dalam menghadapi rimbanya
kehidupan dunia yang fana ini. Itulah mengapa, ruang Ijtihad yang jika
di alih bahasa Indonesia bermakna berusaha/berupaya menjadi solusi komprehensif
para Mukminin dalam menghadapi persoalan zaman yang terus berubah.
Disadari atau tidak, ruang ijtihad sendiri sudah eksis sejak
Rosulullah ﷺ masih bersama para Sohabat. Bahkan,
Rosulullah ﷺ sendiri memberi restu atas kebolehannya ijtihad
itu sendiri. Sebagimana kisah hadis di bawah ini, dimana Rosululah ﷺ hendak mengutus Muadz bin Jabal sebagai
duta besar ke Yaman, kemudian terjadilah dialog interaktif di bawah ini,
أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لَمَّا بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ: كَيْفَ تَقْضِي
إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ؟
قَالَ: أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ.
قَالَ: فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي كِتَابِ اللَّهِ؟
قَالَ: فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.
قَالَ: فَإِنْ لَمْ تَجِدْ؟
قَالَ: أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلَا آلُو.
فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ صَدْرَهُ وَقَالَ: الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ
Rasulullah ﷺ ketika mengutus
Mu‘adz ke Yaman bertanya,
“Dengan apa engkau memutuskan perkara jika suatu masalah dihadapkan kepadamu?”
Mu‘adz menjawab, “Dengan Kitab Allah.”
Nabi bertanya, “Jika tidak engkau dapati dalam Kitab Allah?”
Ia menjawab, “Dengan Sunnah Rasulullah ﷺ.”
Nabi bertanya, “Jika tidak engkau dapati?”
Ia menjawab, “Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan tidak akan
menyimpang.”
Maka Rasulullah ﷺ menepuk dadanya dan
bersabda,
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan Rasulullah
sesuai dengan apa yang diridhoi Rasulullah.”
HR. Tirmidzi
Tanpa mengurai lebih panjang tentang definisi ijtihad baik
secara bahasa maupun istilah, jika disimpulkan secara ringkas, pada akhirnya ijtihad
adalah solusi alternatif bilamana persoalan umat tidak dijumpai secara
eksplisit di sumber primer Islam (Al-Qur’an dan Hadist Sohih). Namun, kecakapan
seorang Mujtahid (orang yang berijtihad) dalam memahami Qur’an
dan Hadist menjadi vital, sebab produk ijtihad yang akan dihasilkan
apakah mendekati kebenaran (Showab) atau justru keliru (khoto’)
menjadi keniscayaan.
Implementasi Ijtihad
Suatu ketika saat penulis mendapat penjelasan dari penasihat kenamaan
Cak Emir Ruzikyani (sekitar 2012), beliau menjelaskan secara implementatif soal
makna ijtihad. Beliau berujar yang kurang lebih seperti ini,
“Ijtihad itu adalah upaya orang Iman agar agamanya mudah dan
lancar, dan porsi ijtihad sesuai tingkatannya masing-masing, seperti sebuah
keluarga dimana Ayah akan berijtihad agar agamanya lancar, seperti mewajibkan
di rumah membaca Al-Qur’an sehari 1 juz. Ada juga seorang Kiyai berijtihad
kepada Jamaahnya untuk begini dan begitu agar agamanya lancar, yang jelas ijtihad
itu tidak menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal”
Secara langsung, ijtihad itu sendiri setidaknya harus
bersandar pada dua dalil utama yakni dalil naqli (nash Al-Qur’an
dan Al-Hadist) dan aqli (akal pikiran yang tidak bertentangan dengan
Al-Qur’an dan Al-Hadist).
Pada tulisan cak Akbar kali ini, sesuai judul tulisan, apa yang akan
saya uraikan jelas tidak ada dalilnya secara eksplisit/tersurat, namun saya juga
tidak menggunakan istilah ijtihad pada tulisan kali ini melainkan tadabur
atau meresapi kembali makna dalil-dalil dan tafsir/penjelasan yang sudah mapan
dengan pemahaman aqli dan diperkuat dengan dalil naqli.
Korelasi vs Kausalitas (I)
Istilah tersebut lazim ditemukan dalam penelitian berbasis ilmiah
(modern), dimana hasil dari suatu subjek dan objek yang diteliti (dengan kaidah
ilmiah) apakah menghasilkan makna ber-korelasi atau ber-kausalitas. Apa
bedanya? Korelasi adalah hubungan atau keterkaitan antara dua variabel, tanpa
menunjukkan adanya hubungan sebab–akibat, sedangkan Kausalitas adalah hubungan
sebab–akibat, di mana satu variabel secara langsung memengaruhi variabel lain.
Sekilas terlihat mirip namun berbeda secara substansinya. Contoh korelasi
seperti, di masa anak masuk sekolah penjualan buku tulis cenderung naik. Secara
korelasi, masa anak masuk sekolah berhubungan (positif) dengan naiknya
penjualan buku. Secara kausalitas, apakah karena masa masuknya anak sekolah adalah
penyebab naiknya penjualan buku? Tentu dalam menjawabnya perlu didukung bukti
yang akurat untuk membuktikan bahwa masa masuk sekolah adalah benar penyebab
naiknya penjualan buku.
Sekarang kita kaitkan dengan tema dalil-dalil pertolongan tadi.
Jika kita memulai dengan premis, dua insan beriman yang menikah pasti Allah
tolong, seseorang yang menolong agama-NYA pasti akan Allah berikan pertolongan.
Lantas, bagaimana jika dua insan yang menikah dengan niat terjaga dan berharap
pertolongannya, berakhir dengan perceraian (karena salah satu pihak selingkuh,
tidak dinafkahi, atau penyebab lainnya)?. Atau seseorang yang gigih jihad fii
sabilillah namun hidupnya masih kaum papa (miskin kronis) bahkan untuk
kebutuhan sandang dan pangan masih berharap welas asih orang lain?. Hal
tersebut menjadikan dalil-dalil pertolongan tadi “seakan” tidak relevan, bahwa pada
kenyataannya tidak semua insan yang menikah dengan berharap terjaga dan si Fulan
yang berjuang memperjuangkan Islam nyatanya “tidak mendapat pertolongan”. Dua
insan yang menikah tadi pada akhirnya bercerai, si Fulan yang jihad tadi
nyatanya hidupnya masih ngelangsa. Sehingga menimbulkan pertanyaan satir
bagi penyitasnya, “apa benar, kalau kita menolong agama Allah menyebabkan kita
ditolong juga?”.
Korelasi vs Kausalitas (II)
Inilah yang terjadi jika kita memahami dalil-dalil tadi secara
kausalitas, memang kedua contoh dalil tadi menegaskan kepastian pertolongannya,
namun bukan berarti perbuatan yang menjadi sarana pertolongan tersebut menjadi
penyebab mutlak akan datangnya pertolongan dari-NYA. Jika kita memahami dalil
tersebut secara mentah (tanpa mempertimbangkan dalil lain), kita seakan hanya
berpangku tangan saja dan menunggu keajaiban itu datang tanpa bersusah payah.
Sekarang, kita ubah cara pandang dalil tersebut dengan pendekatan
korelasi. Jika dalam pandangan kausalitas, “jika kamu menolong agama Allah
dengan menikah adalah penyebab (utama) kamu mendapat pertolongannya”, diubah
menjadi “jika kamu menolong agama Allah dengan menikah akan berkorelasi kamu
mendapat pertolongannya”. Mari kita
bedah perbedaannya, jika kita melihat secara sebab-akibat (kausalitas), kita
menganggap bahwa variabel semua orang Mukmin agar mendapat pertolongan Allah
adalah sama, Misal dalam kasus menikah, seakan-akan hanya dengan menikah
menjadi penyebab mutlak datangnya pertolongan. Jika ini dilakukan akan terjadi
bias hasil, dimana mukmin lain yang juga menikah dan niat agar terjaga malah
berakhir perceraian dan menafikan dalil tadi, “mana? Saya sudah menikah dengan
niat terjaga kok malah berakhir cerai?”. Hal tersebut jika dinotasikan dalam
bahasa ilmiah menjadi,
Pertolongan Allah = Menikah
Padahal, soal
pengalaman religi setiap individu tentu tidak sama persis bahkan bisa jadi
berkebalikan.
Selanjutnya, dengan memahami dalil tadi secara korelasi kita menjadi
sadar bahwa “tidak sepenuhnya” variabel tunggal tersebut menjadikan
satu-satunya penyebab. Justru, dengan memahami dalil tadi dengan pendekatan ini,
menjadikan kita lebih bijak, rasional, dan tentu saja mengedepankan usaha untuk
meriahnya. Misal dalam kasus pertolongan Allah dikarenakan menikah, dengan
memahami secara korelasi kita akan mengerti bahwa dibalik variabel “menikah”
tadi tersimpan variabel lainnya yang justru menjadikan semakin ber-korelasi
(berhubungan) agar datangnya pertolongan seperti, dengan menikah dia (suami)
menjadi giat bekerja, dia (istri) menjadi pribadi yang bisa menjaga diri dan
kehormatan rumah tangganya. Sehingga jika dinotasikan dalam persamaan
matematisnya menjadi,
Pertolongan dikarenakan menikah = f (β1 + β2
+ … βn + ε ) dimana,
β (dibaca “beta”) = variabel/ukuran penyebab
ε (dibaca “error”) = penyebab lain di luar variabel
Misal, β1 adalah suami giat bekerja, β2 adalah
isteri yang soliha dan setia mendukung suami, β3 Suami Isteri yang
setia, dan seterusnya. Jika variabel tadi bernilai positif semua menjadikan datangnya
pertolongan Allah, seperti suami giat bekerja, dengan dia giat bekerja
menjadikan atasan senang dan dia dipromosikan naik jabatan, naik gaji, dan naik
tunjangan. Isteri yang soliha dan setia menjadikan harta suami menjadi aman
bahkan berkembang jadi banyak. Suami Isteri yang setia menjadikan rumah tangga
yang harmonis, tidak banyak drama yang tidak perlu sehingga bekerja menjadi
riang dan bahagia. Sehingga pada akhirnya, secara tidak langsung variabel yang
banyak tadi menjadi ber-korelasi (berhubungan) atas datangnya pertolongan Allah
(keluarga berkecukupan, harmonis, sejahtera). Adapun ada variabel ε adalah
variabel lain yang tidak dimasukkan seperti doa ibu (dan ibu mertua).
Kasus yang serupa bisa diterapkan pada dalil “jika kamu menolong
agama Allah, Allah akan menolongmu” dengan pendekatan korelasi tadi, dimana ada
variabel lain yang ber-korelasi (berhubungan) atas datangnya pertolongan Allah.
Kita misalkan β1 seperti jiwa yang gigih dan pantang putus asa, β2
Kesabaran, dan lainnya. Sehingga jika dua variabel tadi bernilai positif
secara tidak langsung berhubungan dengan datangnya pertolongan Allah, Seperti,
saat dia memiliki jiwa yang gigih dia terlihat sebagai pribadi yang berjiwa
besar, tahan uji, dan tahan banting sehingga di pandangan umatnya dia terlihat
piawai dalam memimpin sehingga dia dijadikan pimpinan. Berjiwa sabar, dengan kesabarannya
dia akan terlihat pribadi yang bijaksana dan rendah hati sehingga dia dijadikan
panutan orang banyak. Dan, tentu saja ada faktor lain (ε) di luar model tadi.
Penutup
Tentu, semua kembali soal “selera” (madzhab) dalam mengambil hikmah
atas dalil-dalil di atas. Semua benar dan layak, sebab pemahaman ini bukan soal
ibadah pokok (mahdoh) melainkan cara kita berijtihad dalam
merenungkan firman dan sabda Nabi-NYA. Namun tidak ada salahnya kami menyumbang
sekelumit pemikiran dalam merefleksikan dalil-dalil tersebut. Dengan memahami
secara korelasi, kita menjadi sadar bahwa ada penyebab turunan yang harus
diupayakan secara lahiriah agar pertolongan tersebut datang. Seperti ayat yang
menceritakan saking putus asanya poro mukminin di saat perang Badar, dimana jumlah
pasukan mukminin yang berjumlah 313 (kurang lebih) dan dalam keadaan tidak siap
tempur, berhadapan kaum kafirin yang berjumlah 1000 pasukan lebih lengkap
dengan baju zirah dan dalam kondisi siap tempur. Mereka (mukminin) tetap
berusaha dengan gigih menghadapi mereka (kafirin) dengan keadaan seadanya dan sekenanya
(tidak lari tunggang langgang) hingga datang pertolongan Allah dengan bala
tentara Ghaib-NYA.
فَلَمۡ
تَقۡتُلُوهُمۡ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمۡۚ وَمَا رَمَيۡتَ إِذۡ رَمَيۡتَ
وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ
“Maka bukan kamu yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang
membunuh mereka, dan bukan engkau (Muhammad) yang melempar ketika engkau
melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.”
QS. Al-Anfal: 17
Bahkan termasuk soal ukhrawi, menjadi orang iman (mukmin) tidak
serta merta menjadi penyebab utama (kausalitas) seorang mendapatkan surga,
melainkan ada turunan dari “iman” lah yang menjadikan seorang mukmin berhubungan
(ber-korelasi) mendapatkan surga.
مَا
مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ
وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ
فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا نَتَّكِلُ؟
قَالَ: اعْمَلُوا
فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
ثُمَّ قَرَأَ:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ
بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ
وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ وَكَذَّبَ
بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ
“Tidak seorang pun dari kalian kecuali telah ditetapkan tempatnya
di surga atau di neraka.”
Para sahabat bertanya, “Kalau begitu, wahai Rasulullah, apakah kami tidak perlu
beramal saja (pasrah)?”
Beliau bersabda, “Beramallah! Karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa
yang ia diciptakan untuknya.”
HR. Bukhori
Juga, cerita seorang murid Sohabat Wahab bin Munabih bertanya “bukankah
kalimat la illa ha illawlah adalah pintu surga?” dia menjawab,
بَلَى
، وَلَكِنْ لَيْسَ مِفْتَاحٌ إِلاَّ لَهُ أَسْنَانٌ ، فَإِنْ جِئْتَ بِمِفْتَاحٍ
لَهُ أَسْنَانٌ فُتِحَ لَكَ ، وَإِلاَّ لَمْ يُفْتَحْ لَكَ
“Benar. Akan tetapi, tidak ada sebuah kunci kecuali pasti memiliki
gerigi. Jika Engkau memasukinya dengan kunci yang memiliki gerigi, maka pintu
tersebut akan terbuka. Namun jika tidak memiliki gerigi, maka pintu tersebut
tidak akan terbuka.”
HR. Bukhori
Sehingga dengan memahami dalil-dalil tersebut secara korelasi
selain menebalkan keimanan kita akan pastinya pertolongan, juga menguatkan kita
dalam ikhtiar menggapai pertolongan tersebut. Islam mengajarkan kita memiliki
jiwa yang tangguh dan menganugerahkan kita akal yang jernih untuk berpikir dan
merenungkan ayat-NYA.
فَإِذَا
فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah
bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau
berharap.”
QS. Al-Insyiroh: 7-8
Sekian, semoga ada manfaatnya
Yogyakarta, 7 Januari 2026
#KataCakAkbar
