Pendahuluan
Pernikahan adalah salah satu ibadah terlama
yang dijalani dua insan manusia sepanjang hidupnya. Tatkala dua mempelai saling
berikrar mengikat janji dalam cinta yang suci, saat itulah ibadah tersebut
dimulai hingga takdir berkehendak. Takdir, tidak melulu soal sampai maut
memisahkan, perceraian juga bagian dari takdir yang tidak bisa dielak. Kendati
perceraian juga dibenarkan dalam syariat Islam bila ada udzur yang dibenarkan,
namun menjaga janji cinta suci hingga maut memisahkan kiranya menjadi dambaan sepasang
kekasih yang sampai pada pelaminan. Sama halnya menjaga khusyu’ dan tuma’ninah,
pernikahan pun juga demikian, Sakinnah Mawaddah Warrahmah istilahnya. Sakinnah,
berarti keluarga yang tenang, tidak banyak ribut, tidak banyak drama yang tidak
penting. Mawaddah, berarti keluarga yang selalu penuh cinta, kasih
sayang, dan saling menjaga cinta. Warrahmah, berarti keluarga yang senantiasa
dalam rahmat Allah, penuh perlindungan dari mara bahaya, musibah, dan hal yang
menyumpekkan hati.
Menjaga kekhusyu’an dan tuma’ninah
pada pernikahan tidak semudah pada ibadah lain. Seperti Sholat, paling lama
hanya 5-10 menit, seperti puasa paling lama hanya ½ hari. Soal pernikahan? Tentu
akan banyak kisah yang mewarnai kisah panjang bahtera rumah tangga sepasang
kekasih tadi, kadang diterpa badai dan ombak yang kuat, kadang melewati arus
laut yang tenang, kadang juga diiringi angin sepoi-sepoi yang membuat
perjalanan ibadah semakin khidmat. Pada intinya, gonjang-ganjing adalah
keniscayaan dalam berumah tangga entah itu perkara yang (dianggap) besar atau
perkara remeh temeh yang terkadang dibuat besar. Sama halnya Rosulullah ﷺ,
sebagai manusia, Nabi, Ayah, dan Suami juga tidak luput dari drama berumah
tangga dengan isteri-isterinya. Bahkan kompilasi kisah tersebut terpatri abadi
dalam Al-Qur’an dan kisah-kisah Hadis (Sohih) yang nantinya kami uraikan. Sekiranya,
tentu banyak tips-tips dan intisari dari banyak khalayak soal rumah tangga entah
itu dari Ulama, cendekiawan yang ahli di bidangnya, atau sekedar konten para influencer
yang hinggap tenar di beranda maya.
Ya, seperti yang pembaca lihat di tajuk. Tulisan
Cak Akbar kali ini memberikan pandangan dari sebuah teori Matematika yang
digagas awal abad ke-20, berkembang menjadi teori ekonomi di pertengahan abad
ke-20 dan berkembang lagi dalam implementasinya menjadi lintas disiplin ilmu
seperti politik dan psikologi perilaku. Tentu, tulisan ini kami niatkan dalam
rangka mentadabbur ayat dan hadis mulia yang bisa kami jadikan nasehat
dan mencari jariyah pahala dari “ilmu yang diambil manfaatnya”.
Game Theory
Game Theory bila dialih bahasa menjadi teori permainan, permainan di sini bukan sesederhana permainan yang menyenangkan seperti bermain sepak bola, dan permainan lainnya. Melainkan, permainan dalam teori ini adalah sebuah simulasi tentang bagaimana orang membuat keputusan ketika hasilnya saling bergantung pada pilihan orang lain. Sejarahnya, Game Theory mulai berkembang pada abad ke-20 ketika para ilmuwan ingin memahami bagaimana manusia membuat keputusan dalam situasi persaingan dan kerja sama. Tokoh awalnya adalah John von Neumann, seorang matematikawan, yang pada 1928 memperkenalkan konsep dasar Game Theory melalui teori permainan dua pihak dengan hasil nol (zero-sum game). Teori ini menjadi kondang ketika Merril Ford dan Melvin Dasher terilhami dari perang dingin Amerika-Uni Soviet memperkenalkan teori ini dengan narasi dilema narapidana (Prisoner’s Dilemma) yang akan kami uraikan secara sederhana di bawah. Inti dari teori ini adalah, menggambarkan secara nyata perilaku manusia yang tidak melulu putih-hitam (baik-jahat) namun ada kalanya saat diperlakukan baik dia malah membalas jahat, diperlakukan jahat malah membalas baik, diperlakukan baik juga membalas baik, diperlakukan jahat juga membalas jahat.
Game Theory (Prisoner’s Dilemma)
Diceritakan, suatu saat ada dua pria ditangkap
atas tuduhan mencuri buah mangga. Sebab pihak berwajib kekurangan bukti, kedua
pria tadi diinterogasi terpisah oleh pihak berwajib, dalam isi interogasi
tersebut mereka diberikan pilihan; jika kamu mengaku siapa yang punya ide
mencuri mangga kamu akan saya bebaskan dan temanmu dipenjara 12 bulan, jika
kamu tidak mengaku kamu dan temanmu akan saya penjara 1 bulan, jika kamu
mengaku mencuri mangga kamu dan temanmu akan dipenjara sama-sama 3 bulan. Dari
narasi fiktif ini, jika kita berpikir hitam-putih tentu saja lebih memilih
sama-sama tidak mengaku (kooperatif) toh, hanya dipenjara sebulan saja. Namun,
dalam simulasi teori ini, nyatanya akan ada kombinasi kemungkinan yang terjadi,
1. dua pria tadi bisa sama-sama kooperatif
(tidak mengaku)
2. salah satunya ada yang berkhianat
3. bisa jadi dua-duanya berkhianat (saling
mengaku)
Yang, jika disimulasikan dalam bagan
seperti ini,
Game Theory (Tit for Tat Game)
Bagian tulisan ini banyak diilhami dari
kanal siaran (Youtube) Veritasium yang walaupun berbahasa Inggris sekarang
sudah ada alih suara (dubbing) bahasa Indonesia,
https://www.youtube.com/watch?v=mScpHTIi-kM&t=492s
dan simulasi permainannya bisa anda mainkan di laman ini https://ncase.me/trust/
Permainan tersebut diprakarsai oleh profesor
ilmu politik Robert Axelord dari Ford School of Public Policy. Ia, penasaran
bagaimana setiap keputusan manusia saling mempengaruhi akibat keputusan manusia
lainnya. Dalam permainan tersebut (menggunakan permainan komputer) dia mengajak
sejumlah relawan yang tidak saling mengenal bermain seperti kasus dilema
narapidana. Dalam permainan tersebut dia diberikan pilihan yakni, kooperatif
atau berkhianat/menusuk sebanyak 200 langkah. Jika keduanya kooperatif dapat
poin +2, jika salah satu berkhianat dia dapat poin +3 dan yang dikhianati dapat
poin -1, dan jika saling berkhianat poinnya 0.
Dari hasil permainan tersebut, prof.
Axelord menemukan pola yang menarik dimana akhir permainan dia mengategorikan
ada lima strategi utama dalam permainan tersebut
1. Friedman, tipikal yang kalau dikhianati/disakiti
sekali dia akan membalas terus tanpa ampun
2. Joss, tipikal yang kalau
dikhianati/disakiti dia akan membalas sekali/setimpal, setelah itu dia akan
kooperatif lagi. Tapi, terkadang dia juga mengkhianati.
3. Grasskamp, tipikal yang lempeng-lempeng
saja tapi kadang-kadang berkhianat/suka cari masalah.
4. Tit for Tat, tipikal yang responsif dimana
sama seperti Joss dan Grasskamp namun dia tidak pernah mulai mengkhianati
(kecuali jika dikhianati duluan).
5. Random, tipikal yang kedua belah pihak sama-sama berkhianat
Hasilnya? Ternyata
permainan dengan strategi Tit for Tat mendapat poin paling tinggi, sedangkan
permainan dengan strategi random dapat poin terendah.
Jika anda perhatikan gambar hasilnya, gradasi
warna (dari hijau ke merah) menunjukkan jenis langkah apa yang sering dipakai,
warna hijau menunjukkan lebih dominan kooperatifnya sedangkan warna merah
dominan berkhianatnya. Dapat dilihat jika kedua pihak saling bekerjasama
nyatanya menjadikan banyak keuntungan dan poin tertinggi, sedangkan jika saling
berkhianat justru poinnya yang paling bawah.
Menjaga Keutuhan Rumah Tangga Dengan Game
Theory
Sekarang mari kita lihat “huru-hara” rumah
tangga yang pernah Rosulullah ﷺ
alami, dalam tulisan ini frasa “mengkhianati” adalah saat dimana isteri
Rosulullah memulai perkara dan bagaimana Rosulullah sendiri menyelesaikan masalah
tersebut.
1. Kisah Aisyah dan Hafsoh radiyallahu anhuma yang
bersekongkol agar Nabi mengharamkan Madu dan menjimak hamba sahaya.
Kisah tersebut termaktub dalam Al-Qur’an
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ
اللَّهُ لَكَ ۖ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Wahai para Nabi (Muhammad), mengapa engkau mengharamkan apa yang
telah Allah halalkan bagimu, demi mencari keridaan istri-istrimu? Dan Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
QS. At-Tahrim:1
Para mufassirin menafsirkan ayat tersebut, dimana Aisyah dan
Hafsoh radiyallahu anhuma bersepakat, bilamana Rosulullah ﷺ
selepas menegak madu mentah mereka berekspreasi seakan-akan mulutnya berbau
tidak sedap. Hal tersebut membuat sang Rosul malu, sebab Rosulullah ﷺ
adalah pribadi yang sangat menjaga kebersihan dan “risih” bila dikatakan berbau
tidak sedap. Ada banyak hadis Rosulullah gemar diberi hadiah minyak wangi,
senang bersiwak, bahkan Sohabat Annas bin Malik yang berkhidmat 10 tahun
bersaksi bahwa air keringat dan liurnya Rosul wangi. Sebab Rosulullah dikatakan
“bau” oleh istrinya, maka Rosul memfatwakan haram meneguk madu mentah. Selain
itu, isteri-isteri Rosul lainnya juga meminta agar Rosulullah tidak menjima’
hamba sahayanya, Maria dari Mesir, sehingga Rosulullah juga memfatwakan haram dirinya
menjima’ hamba sahaya. Lantas turunlah ayat tersebut.
2. Kisah isteri-isteri Rosulullah yang mengeluhkan
beratnya kehidupan yang sederhana
Ada sebuah kisah yang diriwayatkan dalam Sohih Bukhori
dimana terdapat dialog antara Urwah (bin Zubair) dengan Aisyah radiyallahu
anhu tentang kesederhanaannya hidup besama Rosulullah,
عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ لِعُرْوَةَ: ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى
الهِلاَلِ، ثُمَّ الهِلاَلِ، ثَلاَثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوقِدَتْ
فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ، فَقُلْتُ
يَا خَالَةُ: مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ؟ قَالَتْ: الأَسْوَدَانِ: التَّمْرُ وَالمَاءُ،
“Kami pernah melihat hilal demi hilal, tiga kali hilal dalam dua
bulan, sementara tidak ada api yang dinyalakan di rumah-rumah Rasulullah ﷺ.” Ketika ditanya
apa yang mereka makan, Aisyah menjawab: “Dua benda hitam: kurma dan air.”
Sehingga pada masa itu beberapa isteri Rosulullah menuntut
kehidupan duniawi yang lebih mapan. Lazim diketahui bahwa Rosulullah adalah
pribadi yang memilih hidup zuhud sepanjang hayat, hingga pada saat yang memuncak
Rosulullah ﷺ melakukan sumpah illa dimana beliau
memisahi isteri-isterinya dalam kurun waktu tertentu (1 bulan) hingga turun
ayat yang menanting (memberi pilihan) isteri Rosulullah apakah sedia terus
menjadi istrinya ataukah lebih memilih dunia yang nilainya sedikit. Walau
akhirnya, Rosul dan para istrinya memilih islah dan melanjutkan bahtera
rumah tangga mereka.
يَا
أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ
الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا
جَمِيلًا
وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ
الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kamu
menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, akan kuberikan
kepadamu pemberian dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu
menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sungguh Allah telah
menyediakan bagi siapa di antara kamu yang berbuat baik pahala yang besar.”
QS. Al-Ahzab: 28-29
Dari dua kisah tersebut, kita dapat melihat ketika Rosulullah “dikhianati”
beliau memilih memaafkan dan dalam momen kisah nomor dua beliau sampai melakukan
sumpah illa kepada istrinya dengan maksud agar istrinya dapat
merenungkan kesalahannya dan bila ingin bertaubat, taubat tersebut Rosulullah ﷺ terima dan terus melanjutkan bahtera rumah
tangga.
Hikmah
Kembali pada kisah permainan Tit for Tat, di akhir wawancaranya,
dia (Prof. Axelrod) mengemukakan bagaimana dari permainan Tit for Tat tadi
ada beberapa poin agar hubungan antar manusia (termasuk pernikahan) bisa baik
secara jangka panjang berdasarkan temuannya. Ia merumuskan empat poin utama,
1. Nice, secara lebih lengkap dia menjelaskan “not
being the first to detect” yang sederhananya jangan menjadi pihak yang mulai
perkara. Seperti hasil temuannya, secara jangka panjang (200 langkah permainan
tadi) terbukti, pihak-pihak yang kooperatif mendapatkan nilai yang maksimal
sedangkan yang saling berkhianat mendapatkan poin terendah.
2. Forgiving, yakni memaafkan. Seperti permainan
tadi, strategi ketika dikhianati dan dia memaafkan menjadikan keduanya menjadi
kooperatif kembali dan dalam jangka panjang juga meraih poin yang tinggi.
Jangan seperti strategi Friedman, dimana saat dikhianati sekali dia terus
membalas dengan pengkhianatan sampai akhir, menjadikan pihak yang semula berkhianat
(yang bisa jadi karena khilaf dan lupa) juga jadi terus berkhianat (strategi
random) sehingga sampai akhir poin mereka paling rendah.
3. Retaliatory, pada poin ini prof. Axelord menekankan
“if your opponent defects, strike back immediately. Don’t be pushover”. Maksudnya,
jika lawanmu menyerangmu, serang balik sesegera mungkin dan jangan mau diinjak-injak.
Dalam kasus rumah tangga rosul tadi, saat isteri beliau merajuk kehidupan dunia
(memulai perkara) beliau mengambil sikap balasan dengan memberikan sumpah illa,
dalam hal ini sang Rosul memberikan efek jera yang terukur yakni mendiamkan
isteri-isterinya tersebut sekaligus pengingat bahwa harga diri sang Rosul juga tidak
bisa dipermainkan, dimana beliau adalah seorang Rosul yang mengembang misi
membawa manusia agar menomor satukan akhirat bukannya takjub akan gemerlapnya
dunia. Setelah sang Rosul menyelesaikan sumpah illa nya, beliau
memberikan pilihan kepada isteri-isterinya apakah siap satu visi misi dengan
beliau atau tidak? Dan mereka pun sepakat, dan rosul pun memaafkannya.
4. Clear, maksudnya adalah jelas. Dalam dunia nyata,
interaksi manusia (bahkan suami isteri) tidak seperti permainan tadi yang pergerakannya
saling tebak-tebakan. Kenyataanya (dalam rumah tangga) pola komunikasi harus
dibangun agar kedua belah pihak tidak saling tebak-tebakan tentang pergerakan pasangannya.
Saling jujur dan terbuka menjadi kunci utama menjaga keutuhan rumah tangga dan
saya rasa banyak pembicara tersohor pun setuju dengan pernyataan ini. Simaklah cerita yang diriwayatkan Aisyah radiyallahu
anhu
ما
ضربَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ خادمًا لَه ولا امرأةً
“Rosulullah ﷺ tidaklah
pernah memukul pelayannya dan isterinya’
HR. Ibnu Majjah
Bahkan soal seni komunikasi perasaan, Rosulullah juga bisa kita
jadikan tauladan dimana beliau hafal suasana hati istrinya, kapan dia sedang
senang dan kapan dia sedang marah. Sehingga dengan memahami hal tersebut, suami
menjadi tahu waktu yang tempat dalam memulai komunikasi. Seperti hadis di bawah
ini
إنِّي
لَأَعْرِفُ غَضَبَكِ ورِضَاكِ قالَتْ: قُلتُ: وكيفَ تَعْرِفُ ذَاكَ يا رَسولَ
اللَّهِ؟ قالَ: إنَّكِ إذَا كُنْتِ رَاضِيَةً قُلْتِ: بَلَى ورَبِّ مُحَمَّدٍ،
وإذَا كُنْتِ سَاخِطَةً قُلْتِ: لا ورَبِّ إبْرَاهِيمَ قالَتْ: قُلتُ: أجَلْ،
لَسْتُ أُهَاجِرُ إلَّا اسْمَكَ.
“Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui saat engkau sedang marah
dan saat engkau sedang senang.”
Aisyah berkata, “Bagaimana engkau mengetahui hal itu, wahai
Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Apabila engkau sedang senang, engkau berkata:
‘Ya, demi Tuhan Muhammad.’
Namun apabila engkau sedang marah, engkau berkata: ‘Tidak, demi
Tuhan Ibrahim.’”
Aisyah berkata, “Benar. Demi Allah, aku tidak meninggalkan apa pun
kecuali menyebut namamu.”
HR. Muslim
Penutup
Menjaga hubungan sesama manusia (hablumminannas) merupakan
bagian dari ibadah, terlebih jika hubungan tersebut dengan pasangan (halal)
sendiri, pahalanya tentu menjadi berlipat ganda. Hubungan keluarga Rosulullah ﷺ tak ayal jauh
berbeda dengan hari kini (dan seterusnya) dimana persoalan rumah tangga adalah
keniscayaan, dan bagaimana selanjutnya kedua insan ini saling merumuskan strategi
yang terbaik guna terus melanggengkan ibadah ini selamanya. Dari Game Theory
ini kita belajar, tidak ada salahnya saling kooperatif jangan kedepankan
ego dan nafsu pribadi. Saat kita menikah, kita tidak lagi menjadi diri yang satu
melainkan berdua, bertiga jika sudah punya anak satu dan seterusnya. Dimana, perlu
strategi yang perlu di clear kan bersama, jangan saling tebak-tebakan
apalagi saling menaruh curiga, pasang posisi dirikita adalah orang yang nice
(baik), banyak memaafkan (forgiving) bila ada kekeliruan dan kesalahan
kecil, dan perlu ketegasan (retaliatory) agar nakhoda bahtera ini tidak
keluar jalur dan terus konsisten menuju dermaga kebahagian.
Sekian, semoga ada manfaatnya
Yogyakarta, 13 Januari 2026
#KataCakAkbar
