√ Mindset Taqwa: Bagai Burung Yang Terbang Mengais Rizeki - Cak Akbar

Mindset Taqwa: Bagai Burung Yang Terbang Mengais Rizeki

Daftar Isi [Tampil]


    Memahami Lebih Dalam Soal Taqwa

    Belakangan ini, media sosial dipenuhi dengan berbagai narasi tentang cara memperoleh rezeki. Ada yang menekankan pentingnya mindset kaya, ada yang meyakini bahwa kesuksesan adalah buah dari kerja keras semata, tidak sedikit pula yang menawarkan berbagai jalan pintas demi meraih kemapanan finansial. Akibatnya, ukuran keberhasilan seseorang sering kali direduksi hanya pada seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan. Mereka yang hidup berkecukupan dianggap pasti bekerja lebih keras dan lebih cerdas, sementara mereka yang masih bergelut dengan kesulitan ekonomi kerap dipandang kurang berusaha. Padahal, realitas kehidupan tidak selalu sesederhana itu.

    Di sisi lain, dalam sebagian ruang keagamaan, terkadang muncul pula pemahaman yang kurang proporsional tentang tawakal. Ada yang memahami tawakal seolah-olah cukup dengan memperbanyak doa dan ibadah tanpa perlu bersungguh-sungguh dalam ikhtiar. Sebaliknya, ada pula yang begitu percaya pada kemampuan diri hingga melupakan bahwa di atas segala usaha manusia terdapat kehendak Allah yang menentukan hasil akhirnya. Kedua cara pandang tersebut, jika dipahami secara ekstrem, berpotensi melahirkan persoalan. Yang satu dapat menyeret seseorang pada sikap pasif dan fatalistis, sementara yang lain dapat menumbuhkan kesombongan seolah seluruh keberhasilan murni lahir dari jerih payahnya sendiri.

    Lantas, bagaimana Islam mengajarkan umatnya memandang hubungan antara usaha dan tawakal? Apakah seorang Muslim cukup berdiam diri menunggu datangnya rezeki atas nama keimanan? Ataukah ia dituntut bekerja tanpa mengenal batas hingga melupakan dimensi spiritual dalam hidupnya? Menariknya, Rasulullah memberikan sebuah ilustrasi yang sangat sederhana namun sarat makna melalui seekor burung. Makhluk kecil itu berangkat meninggalkan sarangnya pada pagi hari dalam keadaan lapar, lalu pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang. Burung itu tidak memiliki lumbung penyimpanan, tidak pula mengetahui secara pasti di mana makanannya berada. Namun ia tetap terbang, mengais, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sembari menggantungkan harapannya kepada Sang Pemberi Rezeki. Simaklah hadis di bawah ini

    لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا، وَتَرُوحُ بِطَانًا

    “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”

    HR. Tirmidzi

    Mari kita memahaminya lebih jauh…

    Taqwa dan Tawakal: Dua Sayap yang Kerap Dipisahkan

    Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai dua tipe manusia yang tampak bertolak belakang. Di satu sisi, ada orang yang begitu hati-hati dalam menjaga kehalalan rezeki, teliti dalam urusan halal dan haram, tetapi hidupnya dipenuhi kegelisahan. Ia khawatir berlebihan terhadap masa depan, takut kekurangan, dan seolah memikul seluruh beban hidup seorang diri. Di sisi lain, ada pula yang begitu mudah mengucapkan kalimat, Yang penting tawakal kepada Allah, tetapi tidak terlalu peduli terhadap cara yang ditempuh dalam meraih tujuan. Demi mengejar hasil, batas antara yang boleh dan tidak boleh perlahan menjadi kabur. Padahal, bisa jadi persoalannya bukan karena mereka tidak memahami agama, melainkan karena mereka memisahkan dua konsep yang sejatinya berjalan beriringan: takwa dan tawakal.

    Takwa dan tawakal memang sering disebut dalam majelis-majelis ilmu, tetapi keduanya kerap dipahami secara parsial. Takwa dipersempit hanya menjadi simbol kesalehan individual; identik dengan ibadah ritual, pakaian tertentu, atau kehati-hatian dalam perkara fikih. Sementara tawakal dipahami sekadar pasrah menerima keadaan. Akibatnya, lahirlah dua kutub yang sama-sama kurang tepat: ketakwaan yang melahirkan kecemasan karena terlalu bertumpu pada kemampuan diri, atau tawakal yang berubah menjadi fatalisme karena dijadikan alasan untuk menghindari ikhtiar dan tanggung jawab.

    Menariknya, Al-Qur'an justru mempertemukan keduanya dalam satu rangkaian yang utuh. Allah berfirman,

    وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

    Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.

    QS. Ath-Thalaq: 2–3

    Bila diperhatikan, ayat tersebut seolah menggambarkan sebuah perjalanan. Takwa hadir lebih dahulu, yakni memastikan bahwa setiap langkah tetap berada dalam koridor yang diridhai Allah. Setelah itu, tawakal mengambil perannya: menenangkan hati atas hasil yang berada di luar jangkauan manusia. Dengan kata lain, takwa berbicara tentang bagaimana kita berjalan, sedangkan tawakal berbicara tentang kepada siapa hati kita bersandar.

    Barangkali, ilustrasi paling indah untuk memahami hubungan keduanya adalah seekor burung yang disebutkan Rasulullah dalam hadis tentang tawakal. Burung itu keluar dari sarangnya pada pagi hari dalam keadaan lapar, lalu kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang. Ia tidak mengetahui secara pasti di mana makanannya berada, tetapi tetap terbang mengais rezeki. Namun, ada satu pertanyaan yang mungkin jarang kita ajukan: apakah burung itu memperoleh makanannya dengan merampas sarang burung lain? Apakah ia menghalalkan segala cara demi memenuhi perutnya? Tentu tidak. Ia mencari makan sesuai fitrah yang Allah tetapkan baginya.

    Di sinilah takwa dan tawakal bertemu. Burung tersebut bertawakal karena ia berani meninggalkan sarangnya dengan keyakinan bahwa Allah akan mencukupinya. Namun pada saat yang sama, ia juga “bertakwa” dalam makna menjaga diri dari melampaui batas-batas fitrahnya. Ia berusaha, tetapi tidak serakah. Ia mencari, tetapi tidak merusak. Ia bergantung kepada Allah tanpa kehilangan kesungguhan untuk terbang.

    Ada pemahaman menarik soal taqwa dalam dialog dua Sohabat senior Umar bin Khattab dan Ubay bin Ka’ab, simaklah dialog di bawah ini:

     

    عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَأَلَ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ عَنِ التَّقْوَى، فَقَالَ أُبَيٌّ: أَمَا سَلَكْتَ طَرِيقًا ذَا شَوْكٍ؟

    قَالَ: بَلَى.

    قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ؟

    قَالَ: شَمَّرْتُ وَاجْتَهَدْتُ.

    قَالَ: فَذَلِكَ التَّقْوَى.

    Dari Umar bin Khattab رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ beliau bertanya kepada Ubay bin Ka'ab رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ tentang takwa. Ubay berkata,

    “Bukankah engkau pernah melewati jalan yang penuh duri?”

    Umar menjawab, “Ya, pernah.”

    Ubay bertanya, “Lalu apa yang engkau lakukan?”

    Umar menjawab, “Aku menyingsingkan pakaianku dan bersungguh-sungguh berhati-hati agar tidak terkena duri.”

    Ubay berkata, “Itulah takwa.”

     Sebabnya hasil dari mindset taqwa adalah pribadi yang problem solver berani mencari solusi. Ibaratnya duri-duri tersebut adalah apa yang Allah haramkan dan murkai, dengan memiliki mindset taqwa hamba tersebut akan berfikir mencari solusi daripada menerjang larangannya.

    Oleh sebab itu, seorang Muslim tidak cukup hanya memiliki salah satunya. Takwa tanpa tawakal dapat melahirkan pribadi yang mudah cemas karena merasa segala sesuatu bergantung pada dirinya. Sebaliknya, tawakal tanpa takwa dapat berubah menjadi pembenaran untuk menghalalkan segala cara atau bahkan bermalas-malasan atas nama takdir. Padahal, kehidupan ini menuntut keduanya hadir secara bersamaan. Takwa menjadi kompas yang menunjukkan ke mana kita harus melangkah, sedangkan tawakal menjadi energi yang membuat kita berani terus berjalan.

    Tawakalisme vs Fatalisme

    Di tengah masyarakat, istilah tawakal termasuk salah satu konsep yang paling sering diucapkan, tetapi juga paling sering disalahpahami. Tidak jarang seseorang yang enggan berikhtiar secara maksimal berkata, “Saya tawakal saja kepada Allah.” Sebaliknya, ada pula yang memandang bahwa berbicara tentang tawakal identik dengan sikap pasrah yang membuat umat Islam tertinggal. Akibatnya, tawakal sering diposisikan dalam dua kutub ekstrem: antara kemalasan yang dibungkus kesalehan atau dianggap sebagai penghambat kemajuan. Padahal, bila kita menelusuri khazanah Islam secara lebih mendalam, tawakal memiliki makna yang jauh lebih kaya daripada sekadar “pasrah”.

    Sebelum melangkah lebih jauh, perlu dibedakan terlebih dahulu antara tawakal dan fatalisme. Secara sederhana, fatalisme adalah pandangan bahwa seluruh peristiwa telah ditentukan sedemikian rupa sehingga usaha manusia tidak memiliki arti yang berarti. Dalam pandangan ini, apa pun yang dilakukan manusia tidak akan mengubah hasil akhir. Oleh karena itu, bekerja keras ataupun bermalas-malasan dianggap sama saja karena semuanya telah menjadi takdir. Cara pandang seperti ini pada akhirnya dapat melahirkan sikap apatis, pasif, dan enggan bertanggung jawab atas pilihan hidup yang diambil.

    Sebaliknya, tawakal dalam Islam bukanlah penafian terhadap ikhtiar. Tawakal justru lahir setelah seseorang mengerahkan kemampuan terbaik yang dimilikinya. ada sebuah riwayat ketika Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya tentang seseorang yang duduk di rumah atau masjid seraya berkata, “Aku tidak akan bekerja hingga rezekiku datang.” Beliau menjawab bahwa orang seperti itu adalah orang yang tidak memahami ilmu. Sebab Nabi sendiri bersabda tentang burung yang pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang. Burung tersebut tetap terbang mencari makan, bukan berdiam diri di sarangnya menunggu biji-bijian jatuh dari langit.

    Menariknya, dalam sejarah pemikiran Islam, diskursus ini juga pernah menjadi perdebatan teologis. Sebagian kelompok yang dikenal sebagai Jabariyah cenderung menekankan dominasi takdir hingga seolah-olah manusia tidak memiliki kehendak dan pilihan. Di sisi lain, kelompok Qadariyah memberikan penekanan yang sangat besar terhadap kebebasan manusia dalam menentukan nasibnya sendiri. Poro Ulama mutaakhirin kemudian mengambil posisi moderat di antara keduanya. Manusia memiliki kehendak (ikhtiar) dan bertanggung jawab atas pilihannya, tetapi kehendak tersebut tetap berada di bawah kehendak Allah Sebagaimana firman-Nya,

    وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

    “Dan kamu tidak dapat menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.”

    (QS. At-Takwir: 29)

    Simaklah pula hadis di bawah ini yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, beliau berkata:

    كُنَّا فِي جَنَازَةٍ فِي بَقِيعِ الْغَرْقَدِ، فَأَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَعَدَ وَقَعَدْنَا حَوْلَهُ، وَمَعَهُ مِخْصَرَةٌ، فَنَكَسَ فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِمِخْصَرَتِهِ، ثُمَّ قَالَ:

    مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ، وَمَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ، إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا قَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً

    “Tidaklah ada seorang pun di antara kalian, dan tidak pula suatu jiwa yang bernyawa, melainkan telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka. Telah ditetapkan pula apakah ia termasuk orang yang celaka atau orang yang berbahagia.”

    Mendengar hal itu, para sahabat bertanya:

    يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ؟

    “Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah kita bersandar saja kepada ketetapan kita dan meninggalkan amal?”

    Lalu Nabi menjawab:

    اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

    “Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah diciptakan baginya.”

    Kemudian beliau membaca firman Allah:

    فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى ۝ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ۝ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى ۝ وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى ۝ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى ۝ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى

    “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah), bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kemudahan. Adapun orang yang bakhil, merasa dirinya cukup, dan mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kesukaran.”

    QS. Al-Lail: 5–10

    HR. Bukhori

    Bahkan soal mencari surga dan menjauhi neraka, Islam mengajarkan usaha yang sungguh-sungguh bukan hanya berpangku tangan, memperbanyak hawa nafsu sekaligus banyak berangan-angan. Simaklah hadis ini

    لْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ

    “Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab (mengintrospeksi dan mengendalikan) dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, namun tetap berangan-angan kepada Allah (tanpa amal).”

    HR. Ibnu Majjah

    Karena itu, jika fatalisme berbisik, “Untuk apa berusaha? Bukankah semuanya sudah ditakdirkan?”, maka taqwa dan tawakal justru menjawab, “Berusahalah sebaik mungkin, sebab Allah memerintahkan ikhtiar. Namun jangan sampai hatimu bergantung kepada usaha itu, karena pada akhirnya Allah-lah sebaik-baik Pengatur segala urusan.” Dengan cara pandang seperti inilah seorang Muslim dapat menjadi pribadi yang produktif di bumi, tetapi tetap rendah hati di hadapan langit.

    Penutup

    Mindset takwa bukanlah cara pandang yang menjadikan seseorang menjauh dari realitas kehidupan, melainkan justru membimbingnya agar mampu menjalani kehidupan dengan arah yang benar. Takwa mengajarkan kehati-hatian dalam melangkah, sebagaimana seseorang yang berjalan di jalan penuh duri; ia menjaga setiap pijakan agar tidak terjerumus pada perkara yang dimurkai Allah. Sementara itu, tawakal mengajarkan ketenangan hati setelah seluruh ikhtiar dilakukan. Keduanya bukan dua konsep yang saling bertentangan, melainkan dua nilai yang saling melengkapi dalam membentuk karakter seorang Muslim.

    Hadis tentang burung yang keluar dari sarangnya pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang menunjukkan bahwa tawakal bukanlah fatalisme. Burung tersebut tetap terbang, mengais, dan berusaha. Namun, ia tidak menggantungkan seluruh ketenangan hidupnya pada kemampuan dirinya semata. Demikian pula seorang Muslim. Ia diperintahkan untuk bekerja keras, menyusun perencanaan, memanfaatkan potensi yang dimiliki, tetapi tetap menyadari bahwa hasil akhir berada dalam ketetapan Allah Swt. Bahkan ketika para sahabat bertanya tentang takdir surga dan neraka, Rasulullah tidak memerintahkan mereka untuk berhenti beramal, melainkan bersabda, “Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah diciptakan baginya.” Takdir bukan alasan untuk bermalas-malasan, tetapi dorongan untuk terus berikhtiar dalam ketaatan.

    Seperti yang saya sampaikan di awal, bahwa hasil dari mindset taqwa dan tawakal adalah pemecah masalah/problem solver. benar Firman Allah bahwa hasil bagi hambanya yang mau bertakwa adalah jalan keluar, dan dalam perjalanannya hasil apapun yang dia peroleh maka Allah akan menjadikan kecukupan untuknya.

    وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

    Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya

    وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

    Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan baginya.

    Pada akhirnya, kecerdasan seorang Muslim tidak hanya diukur dari kemampuannya mengumpulkan harta, meraih jabatan, atau membaca peluang dunia. Sebagaimana sabda Nabi , orang yang cerdas adalah mereka yang mampu menghisab dirinya dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian. Oleh karena itu, mencari rezeki bukan sekadar persoalan memperoleh sebanyak-banyaknya, melainkan memastikan bahwa proses mencarinya dilakukan dengan cara yang halal, penuh integritas, dan tidak melupakan tujuan akhir kehidupan. Sebab rezeki yang paling berharga bukanlah yang paling banyak jumlahnya, melainkan yang paling mendekatkan seseorang kepada ridha Allah.

    يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً ۝ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ۝ وَادْخُلِي جَنَّتِي

    “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
    QS. Al-Fajr: 27–30


    Sekian dari Cak Akbar semoga ada manfaatnya

     Yogyakarta, 11 Juni 2026

    #KataCakAkbar

     

    “Jadilah seperti burung: terbang dengan penuh ikhtiar, menjaga arah dengan takwa, dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah. Sebab yang mengenyangkan bukanlah kepakan sayapnya, melainkan Dzat yang membentangkan langit tempat ia terbang.” -KataCakAkbar 

     


    Lampiran kisah Imam Ahmad

    وقد سئل الإمام أحمد عن رجل جلس في بيته أو في المسجد، وقال: لا أعمل شيئا حتى يأتيني رزقي؟ فقال: هذا رجل جهل العلم، فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: إن الله جعل رزقي تحت ظل رمحي وقال: لو توكلتم على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير، تغدو خماصا وتروح بطانا فذكر أنها تغدو وتروح في طلب الرزق، وقال: وكان الصحابة يتجرون، ويعملون في نخيلهم، ولنا بهم أسوة حسنة

    Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang duduk di rumahnya atau di masjid, lalu berkata, “Aku tidak akan melakukan pekerjaan apa pun sampai rezekiku datang kepadaku.”

    Maka beliau menjawab, “Orang ini adalah orang yang tidak memahami ilmu. Sungguh Nabi telah bersabda, “Sesungguhnya Allah menjadikan rezekiku berada di bawah naungan tombakku.” Dan beliau juga bersabda, 'Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”

    Nabi menyebutkan bahwa burung itu pergi dan pulang dalam rangka mencari rezeki. Para sahabat pun berdagang dan bekerja mengurus kebun-kebun kurma mereka. Dan bagi kita, mereka adalah teladan yang baik.”

    Kitab Fathul Barri, Syarah Bukhori karya Ibnu Hajar Al-Atsqolani 

    Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

    Hai

    Klik Kontak Whatsapp Di Bawah Ini Untuk Mulai Mengobrol

    Pemilik Cak Akbar
    +6282136116115
    Call us to +6282136116115 from 0:00hs a 24:00hs
    Hai, ada yang bisa saya bantu?
    ×
    Tanya Kami