Memahami Lebih Dalam Soal Taqwa
Belakangan ini,
media sosial dipenuhi dengan berbagai narasi tentang cara memperoleh rezeki.
Ada yang menekankan pentingnya mindset kaya, ada yang meyakini bahwa
kesuksesan adalah buah dari kerja keras semata, tidak sedikit pula yang
menawarkan berbagai jalan pintas demi meraih kemapanan finansial. Akibatnya,
ukuran keberhasilan seseorang sering kali direduksi hanya pada seberapa banyak
harta yang berhasil dikumpulkan. Mereka yang hidup berkecukupan dianggap pasti
bekerja lebih keras dan lebih cerdas, sementara mereka yang masih bergelut
dengan kesulitan ekonomi kerap dipandang kurang berusaha. Padahal, realitas
kehidupan tidak selalu sesederhana itu.
Di sisi lain,
dalam sebagian ruang keagamaan, terkadang muncul pula pemahaman yang kurang
proporsional tentang tawakal. Ada yang memahami tawakal seolah-olah cukup
dengan memperbanyak doa dan ibadah tanpa perlu bersungguh-sungguh dalam
ikhtiar. Sebaliknya, ada pula yang begitu percaya pada kemampuan diri hingga
melupakan bahwa di atas segala usaha manusia terdapat kehendak Allah yang
menentukan hasil akhirnya. Kedua cara pandang tersebut, jika dipahami secara
ekstrem, berpotensi melahirkan persoalan. Yang satu dapat menyeret seseorang
pada sikap pasif dan fatalistis, sementara yang lain dapat menumbuhkan
kesombongan seolah seluruh keberhasilan murni lahir dari jerih payahnya
sendiri.
Lantas,
bagaimana Islam mengajarkan umatnya memandang hubungan antara usaha dan
tawakal? Apakah seorang Muslim cukup berdiam diri menunggu datangnya rezeki
atas nama keimanan? Ataukah ia dituntut bekerja tanpa mengenal batas hingga
melupakan dimensi spiritual dalam hidupnya? Menariknya, Rasulullah ﷺ memberikan sebuah ilustrasi yang sangat sederhana namun sarat
makna melalui seekor burung. Makhluk kecil itu berangkat meninggalkan sarangnya
pada pagi hari dalam keadaan lapar, lalu pulang pada sore hari dalam keadaan
kenyang. Burung itu tidak memiliki lumbung penyimpanan, tidak pula mengetahui
secara pasti di mana makanannya berada. Namun ia tetap terbang, mengais,
berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sembari menggantungkan harapannya
kepada Sang Pemberi Rezeki. Simaklah hadis di bawah ini
لَوْ
أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُمْ كَمَا
يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا، وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya
tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia
pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam
keadaan kenyang.”
HR. Tirmidzi
Mari kita
memahaminya lebih jauh…
Taqwa dan
Tawakal: Dua Sayap yang Kerap Dipisahkan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai dua tipe manusia yang tampak bertolak belakang. Di satu sisi, ada orang yang begitu hati-hati dalam menjaga kehalalan rezeki, teliti dalam urusan halal dan haram, tetapi hidupnya dipenuhi kegelisahan. Ia khawatir berlebihan terhadap masa depan, takut kekurangan, dan seolah memikul seluruh beban hidup seorang diri. Di sisi lain, ada pula yang begitu mudah mengucapkan kalimat, “Yang penting tawakal kepada Allah,” tetapi tidak terlalu peduli terhadap cara yang ditempuh dalam meraih tujuan. Demi mengejar hasil, batas antara yang boleh dan tidak boleh perlahan menjadi kabur. Padahal, bisa jadi persoalannya bukan karena mereka tidak memahami agama, melainkan karena mereka memisahkan dua konsep yang sejatinya berjalan beriringan: takwa dan tawakal.
Takwa dan
tawakal memang sering disebut dalam majelis-majelis ilmu, tetapi keduanya kerap
dipahami secara parsial. Takwa dipersempit hanya menjadi simbol kesalehan
individual; identik dengan ibadah ritual, pakaian tertentu, atau kehati-hatian
dalam perkara fikih. Sementara tawakal dipahami sekadar pasrah menerima
keadaan. Akibatnya, lahirlah dua kutub yang sama-sama kurang tepat: ketakwaan
yang melahirkan kecemasan karena terlalu bertumpu pada kemampuan diri, atau
tawakal yang berubah menjadi fatalisme karena dijadikan alasan untuk
menghindari ikhtiar dan tanggung jawab.
Menariknya,
Al-Qur'an justru mempertemukan keduanya dalam satu rangkaian yang utuh. Allah
berfirman,
وَمَنْ
يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan
memberikan jalan keluar baginya. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang
tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka
cukuplah Allah baginya.
QS. Ath-Thalaq: 2–3
Bila
diperhatikan, ayat tersebut seolah menggambarkan sebuah perjalanan. Takwa hadir
lebih dahulu, yakni memastikan bahwa setiap langkah tetap berada dalam koridor
yang diridhai Allah. Setelah itu, tawakal mengambil perannya: menenangkan hati
atas hasil yang berada di luar jangkauan manusia. Dengan kata lain, takwa
berbicara tentang bagaimana kita berjalan, sedangkan tawakal berbicara tentang
kepada siapa hati kita bersandar.
Barangkali,
ilustrasi paling indah untuk memahami hubungan keduanya adalah seekor burung
yang disebutkan Rasulullah ﷺ dalam hadis tentang
tawakal. Burung itu keluar dari sarangnya pada pagi hari dalam keadaan lapar,
lalu kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang. Ia tidak mengetahui secara
pasti di mana makanannya berada, tetapi tetap terbang mengais rezeki. Namun, ada
satu pertanyaan yang mungkin jarang kita ajukan: apakah burung itu memperoleh
makanannya dengan merampas sarang burung lain? Apakah ia menghalalkan segala
cara demi memenuhi perutnya? Tentu tidak. Ia mencari makan sesuai fitrah yang
Allah tetapkan baginya.
Di sinilah
takwa dan tawakal bertemu. Burung tersebut bertawakal karena ia berani
meninggalkan sarangnya dengan keyakinan bahwa Allah akan mencukupinya. Namun
pada saat yang sama, ia juga “bertakwa” dalam makna menjaga diri dari melampaui
batas-batas fitrahnya. Ia berusaha, tetapi tidak serakah. Ia mencari, tetapi
tidak merusak. Ia bergantung kepada Allah tanpa kehilangan kesungguhan untuk
terbang.
Ada pemahaman
menarik soal taqwa dalam dialog dua Sohabat senior Umar bin Khattab dan Ubay
bin Ka’ab, simaklah dialog di bawah ini:
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّهُ سَأَلَ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ عَنِ التَّقْوَى، فَقَالَ أُبَيٌّ: أَمَا
سَلَكْتَ طَرِيقًا ذَا شَوْكٍ؟
قَالَ: بَلَى.
قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ؟
قَالَ: شَمَّرْتُ وَاجْتَهَدْتُ.
قَالَ: فَذَلِكَ التَّقْوَى.
Dari Umar bin
Khattab رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ beliau bertanya kepada Ubay bin Ka'ab رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ tentang takwa. Ubay berkata,
“Bukankah
engkau pernah melewati jalan yang penuh duri?”
Umar menjawab, “Ya,
pernah.”
Ubay bertanya, “Lalu
apa yang engkau lakukan?”
Umar menjawab, “Aku
menyingsingkan pakaianku dan bersungguh-sungguh berhati-hati agar tidak terkena
duri.”
Ubay berkata, “Itulah
takwa.”
Sebabnya hasil dari mindset taqwa adalah pribadi yang problem solver berani mencari solusi. Ibaratnya duri-duri tersebut adalah apa yang Allah haramkan dan murkai, dengan memiliki mindset taqwa hamba tersebut akan berfikir mencari solusi daripada menerjang larangannya.
Oleh sebab itu, seorang Muslim tidak cukup hanya memiliki salah satunya. Takwa tanpa tawakal dapat melahirkan pribadi yang mudah cemas karena merasa segala sesuatu bergantung pada dirinya. Sebaliknya, tawakal tanpa takwa dapat berubah menjadi pembenaran untuk menghalalkan segala cara atau bahkan bermalas-malasan atas nama takdir. Padahal, kehidupan ini menuntut keduanya hadir secara bersamaan. Takwa menjadi kompas yang menunjukkan ke mana kita harus melangkah, sedangkan tawakal menjadi energi yang membuat kita berani terus berjalan.
Tawakalisme vs
Fatalisme
Di tengah
masyarakat, istilah tawakal termasuk salah satu konsep yang paling
sering diucapkan, tetapi juga paling sering disalahpahami. Tidak jarang
seseorang yang enggan berikhtiar secara maksimal berkata, “Saya tawakal saja
kepada Allah.” Sebaliknya, ada pula yang memandang bahwa berbicara tentang
tawakal identik dengan sikap pasrah yang membuat umat Islam tertinggal.
Akibatnya, tawakal sering diposisikan dalam dua kutub ekstrem: antara kemalasan
yang dibungkus kesalehan atau dianggap sebagai penghambat kemajuan. Padahal,
bila kita menelusuri khazanah Islam secara lebih mendalam, tawakal memiliki
makna yang jauh lebih kaya daripada sekadar “pasrah”.
Sebelum
melangkah lebih jauh, perlu dibedakan terlebih dahulu antara tawakal dan fatalisme.
Secara sederhana, fatalisme adalah pandangan bahwa seluruh peristiwa telah
ditentukan sedemikian rupa sehingga usaha manusia tidak memiliki arti yang
berarti. Dalam pandangan ini, apa pun yang dilakukan manusia tidak akan
mengubah hasil akhir. Oleh karena itu, bekerja keras ataupun bermalas-malasan
dianggap sama saja karena semuanya telah menjadi takdir. Cara pandang seperti
ini pada akhirnya dapat melahirkan sikap apatis, pasif, dan enggan bertanggung
jawab atas pilihan hidup yang diambil.
Sebaliknya,
tawakal dalam Islam bukanlah penafian terhadap ikhtiar. Tawakal justru lahir
setelah seseorang mengerahkan kemampuan terbaik yang dimilikinya. ada sebuah riwayat ketika Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya tentang seseorang yang duduk di rumah atau masjid seraya
berkata, “Aku tidak akan bekerja hingga rezekiku datang.” Beliau menjawab bahwa
orang seperti itu adalah orang yang tidak memahami ilmu. Sebab Nabi ﷺ sendiri bersabda tentang burung yang pergi
pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan
kenyang. Burung tersebut tetap terbang mencari makan, bukan berdiam diri di
sarangnya menunggu biji-bijian jatuh dari langit.
Menariknya,
dalam sejarah pemikiran Islam, diskursus ini juga pernah menjadi perdebatan
teologis. Sebagian kelompok yang dikenal sebagai Jabariyah cenderung menekankan
dominasi takdir hingga seolah-olah manusia tidak memiliki kehendak dan pilihan.
Di sisi lain, kelompok Qadariyah memberikan penekanan yang sangat besar
terhadap kebebasan manusia dalam menentukan nasibnya sendiri. Poro Ulama mutaakhirin
kemudian mengambil posisi moderat di antara keduanya. Manusia memiliki kehendak
(ikhtiar) dan bertanggung jawab atas pilihannya, tetapi kehendak
tersebut tetap berada di bawah kehendak Allah Sebagaimana firman-Nya,
وَمَا
تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Dan kamu tidak
dapat menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh
alam.”
(QS. At-Takwir:
29)
Simaklah pula
hadis di bawah ini yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, beliau berkata:
كُنَّا
فِي جَنَازَةٍ فِي بَقِيعِ الْغَرْقَدِ، فَأَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه
وسلم فَقَعَدَ وَقَعَدْنَا حَوْلَهُ، وَمَعَهُ مِخْصَرَةٌ، فَنَكَسَ فَجَعَلَ
يَنْكُتُ بِمِخْصَرَتِهِ، ثُمَّ قَالَ:
مَا
مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ، وَمَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ، إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ
مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا قَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ
سَعِيدَةً
“Tidaklah ada
seorang pun di antara kalian, dan tidak pula suatu jiwa yang bernyawa,
melainkan telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka. Telah ditetapkan
pula apakah ia termasuk orang yang celaka atau orang yang berbahagia.”
Mendengar hal
itu, para sahabat bertanya:
يَا
رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ؟
“Wahai
Rasulullah, kalau begitu apakah kita bersandar saja kepada ketetapan kita dan
meninggalkan amal?”
Lalu Nabi ﷺ menjawab:
اعْمَلُوا،
فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
“Beramallah
kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah diciptakan
baginya.”
Kemudian beliau
membaca firman Allah:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى
وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ
وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah), bertakwa,
dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya
jalan menuju kemudahan. Adapun orang yang bakhil, merasa dirinya cukup, dan
mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju
kesukaran.”
QS. Al-Lail: 5–10
HR. Bukhori
Bahkan soal mencari surga dan
menjauhi neraka, Islam mengajarkan usaha yang sungguh-sungguh bukan hanya
berpangku tangan, memperbanyak hawa nafsu sekaligus banyak berangan-angan. Simaklah
hadis ini
لْكَيِّسُ
مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ
أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ
“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab (mengintrospeksi dan
mengendalikan) dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematian.
Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, namun
tetap berangan-angan kepada Allah (tanpa amal).”
HR. Ibnu Majjah
Karena itu, jika fatalisme berbisik, “Untuk apa berusaha? Bukankah semuanya sudah ditakdirkan?”, maka taqwa dan tawakal justru menjawab, “Berusahalah sebaik mungkin, sebab Allah memerintahkan ikhtiar. Namun jangan sampai hatimu bergantung kepada usaha itu, karena pada akhirnya Allah-lah sebaik-baik Pengatur segala urusan.” Dengan cara pandang seperti inilah seorang Muslim dapat menjadi pribadi yang produktif di bumi, tetapi tetap rendah hati di hadapan langit.
Penutup
Mindset takwa
bukanlah cara pandang yang menjadikan seseorang menjauh dari realitas
kehidupan, melainkan justru membimbingnya agar mampu menjalani kehidupan dengan
arah yang benar. Takwa mengajarkan kehati-hatian dalam melangkah, sebagaimana
seseorang yang berjalan di jalan penuh duri; ia menjaga setiap pijakan agar
tidak terjerumus pada perkara yang dimurkai Allah. Sementara itu, tawakal
mengajarkan ketenangan hati setelah seluruh ikhtiar dilakukan. Keduanya bukan
dua konsep yang saling bertentangan, melainkan dua nilai yang saling melengkapi
dalam membentuk karakter seorang Muslim.
Hadis tentang
burung yang keluar dari sarangnya pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu
kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang menunjukkan bahwa tawakal bukanlah
fatalisme. Burung tersebut tetap terbang, mengais, dan berusaha. Namun, ia
tidak menggantungkan seluruh ketenangan hidupnya pada kemampuan dirinya semata.
Demikian pula seorang Muslim. Ia diperintahkan untuk bekerja keras, menyusun
perencanaan, memanfaatkan potensi yang dimiliki, tetapi tetap menyadari bahwa
hasil akhir berada dalam ketetapan Allah Swt. Bahkan ketika para sahabat
bertanya tentang takdir surga dan neraka, Rasulullah ﷺ
tidak memerintahkan mereka untuk berhenti beramal, melainkan bersabda, “Beramallah
kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah diciptakan
baginya.” Takdir bukan alasan untuk bermalas-malasan, tetapi dorongan untuk
terus berikhtiar dalam ketaatan.
Seperti yang saya sampaikan di awal, bahwa hasil dari mindset taqwa dan tawakal adalah pemecah masalah/problem solver. benar Firman Allah bahwa hasil bagi hambanya yang mau bertakwa adalah jalan keluar, dan dalam perjalanannya hasil apapun yang dia peroleh maka Allah akan menjadikan kecukupan untuknya.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya”
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan baginya.
Pada akhirnya,
kecerdasan seorang Muslim tidak hanya diukur dari kemampuannya mengumpulkan
harta, meraih jabatan, atau membaca peluang dunia. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ, orang yang cerdas adalah mereka yang
mampu menghisab dirinya dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah
kematian. Oleh karena itu, mencari rezeki bukan sekadar persoalan memperoleh
sebanyak-banyaknya, melainkan memastikan bahwa proses mencarinya dilakukan
dengan cara yang halal, penuh integritas, dan tidak melupakan tujuan akhir
kehidupan. Sebab rezeki yang paling berharga bukanlah yang paling banyak
jumlahnya, melainkan yang paling mendekatkan seseorang kepada ridha Allah.
يَا
أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً
مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang
rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan
masuklah ke dalam surga-Ku.”
QS. Al-Fajr: 27–30
Sekian dari Cak Akbar semoga ada manfaatnya
Yogyakarta, 11 Juni 2026
#KataCakAkbar
“Jadilah seperti burung: terbang dengan penuh ikhtiar, menjaga arah dengan takwa, dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah. Sebab yang mengenyangkan bukanlah kepakan sayapnya, melainkan Dzat yang membentangkan langit tempat ia terbang.” -KataCakAkbar
Lampiran kisah Imam Ahmad
وقد سئل الإمام أحمد عن رجل جلس في بيته أو في المسجد، وقال: لا أعمل شيئا حتى يأتيني رزقي؟ فقال: هذا رجل جهل العلم، فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: إن الله جعل رزقي تحت ظل رمحي وقال: لو توكلتم على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير، تغدو خماصا وتروح بطانا فذكر أنها تغدو وتروح في طلب الرزق، وقال: وكان الصحابة يتجرون، ويعملون في نخيلهم، ولنا بهم أسوة حسنة
Imam Ahmad
pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang duduk di rumahnya atau di masjid,
lalu berkata, “Aku tidak akan melakukan pekerjaan apa pun sampai rezekiku
datang kepadaku.”
Maka beliau
menjawab, “Orang ini adalah orang yang tidak memahami ilmu. Sungguh Nabi ﷺ telah bersabda, “Sesungguhnya
Allah menjadikan rezekiku berada di bawah naungan tombakku.” Dan beliau juga
bersabda, 'Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya
tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia
memberikan rezeki kepada burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan
lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”
Nabi menyebutkan bahwa burung itu pergi dan pulang dalam rangka mencari rezeki. Para sahabat pun berdagang dan bekerja mengurus kebun-kebun kurma mereka. Dan bagi kita, mereka adalah teladan yang baik.”
Kitab Fathul Barri, Syarah Bukhori karya Ibnu Hajar Al-Atsqolani
.png)
