Pendahuluan
Mengimani akan datangnya hari akhir,
merupakan perkara wajib yang harus dimiliki segenap Muslimin wal Mu’minin
secara kaafah. Bagaimana tidak, mengimani hari akhir merupakan
serangkaian penyangga utama keimanan seorang hamba. Ketika seorang hamba
mengingkari adanya hari akhir, praktis imannya seorang hamba tersebut menjadi
goyah bahkan runtuh sekalipun dia masih mengimani penyangga iman yang lain.
Penyangga Iman atau disebut rukun iman/ أَرْكَانُ
الْإِيمَانِ yang mafhum dikenal hari ini
didasari dari riwayat hadis Sohabat Umar bin Khatab yang berkisah suatu saat
sang Rosul ﷺ
kedatangan tamu yang poro Sohabat tidak mengenalinya, perawi mendeskripsikan
tamu tersebut sebagai sosok laki-laki berbaju putih bersih yang tidak tampak
bekas telah melewati perjalanan yang nun jauh. “Anehnya”, sesampainya sang tamu
dihadapan sang Rosul ﷺ
sekonoyong-konyong dia merebahkan lututnya hingga sampai menempel lutut sang
Rosul sembari menodong pelbagai pertanyaan kepada sang Rosul, hingga sampai
pada dialog
“Apa itu Iman?”
“Iman adalah engkau beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan
beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.” Jawab sang Rosul lugas…
“Benar engkau” sang tamu membalas
“Aneh nian sang tamu ini, dia bertanya
sendiri dia pula yang membenarkannya”, gumam sang Singa Padang Pasir ini
(Umar).
Ia (sang tamu) bertanya lagi, “Beritahukan
kepadaku tentang hari kiamat.”
“Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” (baik yang ditanya dan yang bertanya tidak mengetahui jawabannya)
Ia berkata, “Kalau
begitu, beritahukan kepadaku tanda-tandanya.”
Beliau bersabda
setelah keheningan beberapa saat,
“(di antara tanda-tanda datangnya kiamat adalah saat) Seorang budak
perempuan melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang yang bertelanjang
kaki, bertelanjang badan, miskin, para penggembala kambing, berlomba-lomba
meninggikan bangunan.”
Usai selesai bertanya dan membenarkan sendiri atas jawaban sang
Rosul ﷺ, sang tamu lekas berdiri serta undur pamit
tanpa meninggalkan sepatah kata apapun, meninggalkan poro Sohabat yang tengah
ber-majlis dalam keadaan bingung dan penuh tanda tanya. Selepas sang
tamu menghilang dalam keheningan, sang Rosul ﷺ
yang tak tega Sohabat sejatinya ini dalam kebingunan, berusaha mencairkan
suasana,
“Wahai Umar, taukah engkau siapakah sang tamu tadi?”
“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui” jawab Umar
“Ia adalah Jibril alaihissalam dia datang untuk mengajari
agama kepada kalian” tutup sang Rosul ﷺ.
Mengimani Hari Kiamat
Pada tulisan cak Akbar kali ini, kita memahami terlebih dahulu soal
Kiamat. Setidaknya terdapat dua premis soal Kiamat
1. Yang mengetahui persis kapan datangnya kiamat hanyalah Allah subhanau
wa ta’ala
يَسْـَٔلُونَكَ
عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَىٰهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي ۖ
لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْـَٔلُونَكَ كَأَنَّكَ
حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ
النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, “Kapankah
terjadinya?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu ada
pada Tuhanku; tidak ada seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya
selain Dia. Kiamat itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit
dan di bumi. Kiamat tidak akan datang kepadamu melainkan secara tiba-tiba.”
Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau benar-benar mengetahuinya.
Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu ada pada Allah,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
QS. Al-A’rof:187
2. Poro Nabi dan Rosul, termasuk Nabi Muhammad ﷺ
hanya diwahyukan soal tanda-tanda akan kedatangan Kiamat.
Sebabnya,
persoalan Kiamat ini adalah perkara Ghaib. Memahami secara sederhana
soal Ghaib ialah segala sesuatu yang hanya Allah subhanahu wa ta’ala
yang mengetahuinya. Namun, bukan berarti perkara Ghaib manusia tidak
mengetahuinya, manusia dapat mengetahui berdasarkan wahyu yang Allah turunkan
kepada nabi-Nya. Sebabnya, poro ulama terdahulu membagi perkara Ghaib ke
dalam dua bagian, (1) Ghoib mutlaq, yakni perkara Ghaib yang
hanya Allah yang tahu seperti datangnya Kiamat, kapan dan dimana seseorang akan
mati, bagaimana kadar rezeki seseorang, (2) Ghoib Nisbi, dimana manusia
mengetahui “sebagian” perkara Ghoib berdasarkan wahyu Al-Qur’an dan
Sabda Rosul-Nya.
وَمَا
يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ٣
إِنْ
هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ ٤
“Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya.
Apa yang dia sampaikan itu tidak lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan (kepadanya).”
QS. An-Najm:3-4
Bahkan sang Rosul ﷺ sendiri diancam,
bilamana mengada-ada/dusta mengatasnamakan Allah
وَلَوْ
تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ ٤٤
لَأَخَذْنَا
مِنْهُ بِالْيَمِينِ ٤٥
ثُمَّ
لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ ٤٦
فَمَا
مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ ٤٧
“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas
(nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian
benar-benar Kami potong urat nadinya. Maka tidak seorang pun di antara kamu
yang dapat menghalangi (Kami) dari tindakan itu.”
QS. Al-Haaqqoh:44-47
Jika kita mengkerucutkan dalam hal ini, soal datangnya hari akhir
kehancuran alam semesta/Kiamat, maka kita dapat mengetahuinya dari firman Tuhan
dan sabda Rosul-NYA ﷺ. Sehingga dusta yang
teramat, bilamana ada seseorang yang memastikan tahu betul kapan Kiamat, sebab
sang Rosul saja tidak diberikan ilmu soal tersebut.
Tanda-Tanda Kiamat
Jika poro sedulur mengkaji teks-teks Qur’an Hadist soal Kiamat
tentu akan teramat banyak jika semua teks-teks tersebut kami tuangkan dalam
tulisan ini. Belum lagi jika berita soal Kiamat terdapat dalam teks hadis,
tentu menjadi pekerjaan dua kali sebab perlu memastikan rantai riwayat suatu
hadist (sanad) dan isi daripadanya (matan) juga harus autentik. Setidaknya,
secara garis besar Kiamat (dalam hal ini Kiamat Qubro) memiliki dua tanda yang
utama,
1. Terdekadensinya moral manusia
2. fenomena katastropik kosmologi dan geologi
Soal kemerosotan moral manusia sudah dijelaskan sedikit dari
cuplikan hadis di awal, dimana manusia di zaman itu saling berlomba mengejar
dunia alih-alih mengejar akhirat. Bahkan, ada sebuah riwayat hadis yang
menceritakan bahwa kelak menjelang Kiamat, Islam akan pudar, tak dikenal apa
itu Islam melainkan tinggal kitabnya saja. Bahkan yang tersisa hanyalah
sekelompok manusia tua yang hanya mengingat “dahulu leluhur kami menyebut laa
illahaillawlah dan kami hanya mengikutinya saja (tanpa tahu maknannya)”.
Lebih buruk lagi, menjelang Kiamat perzinaan dilakukan secara terang-terangan
di tempat umum, dan orang yang dianggap paling baik di antara mereka hanya
menyarankan agar perbuatan itu dilakukan di tempat yang lebih tersembunyi,
bukan melarangnya.
Soal katastropik geologi dan kosmologi, di antara cuplikan tersebut
kita dapat mengetahuinya dari Firman Allah subhanahu wa ta’ala
إِذَا
الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
“Apabila matahari digulung (cahayanya dihilangkan).”
QS. At-Takwi:1
يَوْمَ
نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ
خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
“(Ingatlah) pada hari ketika Kami menggulung langit seperti
menggulung lembaran-lembaran tulisan. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan
pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami
tepati. Sungguh, Kamilah yang akan melaksanakannya.”
QS. Al-Anbiya: 104
وَتَكُونُ
الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنفُوشِ
“Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.”
QS. Al-Qori’ah:5
Kiamat Pasti (Mungkin) Terjadi
Jika kita hanya
berfokus kiamat soal moralitas manusia yang kian terdekadensi, dan nilai-nilai
keagamaan yang kian ditinggalkan maka setiap bergantinya tahun hal tersebut
merupakan keniscayaan, sebagaimana sabda Rosul ﷺ
فَإِنَّهُ
لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا وَالَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ
“karena sesungguhnya tidaklah datang kepada kalian suatu zaman melainkan zaman
setelahnya lebih buruk daripada zaman sebelumnya”
HR. Bukhori
Namun, jika fokus kita adalah soal kiamat katrastropik maka
pertanyaannya kapan? Sebab, selepas Rosul diutus adalah tanda bahwa Kiamat akan
segera terjadi. Sebagaimana sabdanya,
بُعِثْتُ
أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ، وَيُشِيرُ بِإِصْبَعَيْهِ فَيَمُدُّ بِهِمَا:
السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى.
“Aku diutus dan hari kiamat seperti dua jari ini.”
Beliau kemudian memberi isyarat dengan dua jarinya, yaitu:
jari telunjuk dan jari tengah.
HR. Bukhori
Dan hingga hari ini, tanda-tanda seperti cahaya matahari yang
meredup, langit yang dilipat, gunung-gunung telepas dari pasaknya nampaknya
belum terlihat sama sekali. Sehingga akan muncul pertanyaan, apakah Kiamat
(kehancuran alam semesta) mungkin terjadi?
Melihat Kiamat dalam Sudut Pandang Fisika
Pada 1994 silam, seorang Fisikawan terkemuka bernama Paul Davies
menerbitkan buku bertajuk “The Last Three Minutes: Conjectures about the
Ultimate Fate of the Universe”. Buku
yang halamannya tidak genap 200 halaman itu, beliau menguraikan secara panjang
tentang bagaimana kiamat “mungkin” akan terjadi.
Beliau menjelaskan ada sepuluh skenario kemungkinan bagaimana alam
semesta kelak akan Kiamat/berakhir, baik yang berupa prediksi maupun spekulasi
ilmiah. Soal prediksi, beliau menjelaskan kemungkinan Komet Swift Tuttle yang secara
prediksi ilmiah akan menghantam bumi pada 21 Agustus 2126. Adapula prediksi big
death freeze dimana Matahari yang menyinari kelak akan kehabisan cahayanya,
meredup secara perlahan, dan habis energinya. Predeksi yang disajikan
berdasarkan hipotesa Hermann Von Hemlhotz pada 1856 yang menoyoroti bahwa alam
semesta ini tengah sekarat. Beliau menjelaskan prediksi tersebut menggunakan
Hukum Termodinamika II yang berbunyi “Energi selalu cenderung menyebar dan
menjadi kurang berguna untuk melakukan kerja”. Gambaran mudahnya, jika anda
menyeduh kopi panas dengan suhu 80°C kemudian anda bawa ke dalam ruangan
bersuhu 25°C maka dalam beberapa waktu, kopi yang semula panas nya 80°C akan
mengikuti suhu ruangannya menjadi 25°C. Sama halnya dengan Matahari yang terus
menerus melakukan pembakaran fusi nuklir (agar menghasilkan cahaya panas) lambat
laun energi tersebut akan habis, Matahari menjadi kehilangan cahayanya dan
meredup. Sebagaimana firman-NYA
إِذَا
الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
“Apabila matahari digulung (cahayanya dihilangkan).”
QS. At-Takwi:1
Soal Spekulasi ilmiah, beliau menjelaskan seperti fenomena fisik
yang tengah terjadi di belahan luar galaksi Bima Sakti, dimana lubang hitam
super masif diamati menelan galaksi-galaksi yang ada di sekitarnya. Tidak hanya
itu, efek dari radiasi lubang hitam yang disebut radiasi hawking diamati juga
merusak lintasan orbit planet dan bahkan meluruhkan planet-planet yang ada di sekitarnya.
Fenomena tersebut oleh para Ilmuwan disebut spekulasi ilmiah, sebab kejadian
tersebut tidak/belum benar-benar terjadi di galaksi bima sakti dimana bumi kita
ini berada, disebut ilmiah sebab fenomena tersebut sudah terjadi di belahan
galaksi lain di luaran sana. Adapula spekulasi ilmiah soal rengkuhan besar/big
crunch, skenario ini membahas soal alam semesta yang kian mengembang
setelah terjadi big bang dimana pengembangan tersebut pada akhirnya akan
mencapai suatu titik dimana alam semesta tidak dapat lagi mengembang. Setelah
hal tersebut terjadi, alam semesta kembali tertarik menuju kesetimbangan awal
Jika kita perhatikan, teori tersebut senada dengan gambaran Kiamat
yang Allah firmankan,
يَوْمَ
نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ
خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
“(Ingatlah) pada hari ketika Kami menggulung langit seperti
menggulung lembaran-lembaran tulisan. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan
pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami
tepati. Sungguh, Kamilah yang akan melaksanakannya.”
QS. Al-Anbiya: 104
Dimana, kelak ketika Kiamat terjadi Allah akan menggulung/melipat kembali langit menjadi sedia kala/seperti pertama kali Allah memulai menciptakannya.
Penutup
Sebagai hamba Allah yang mukminin sudah barang tentu
mengimani akan datangnya hari akhir yang pasti terjadinya dan hanya Allah yang
mengetahui pastinya. Namun tidak ada salahnya kita melihat sudut pandang bagaimana
manusia menyibak alam semesta dengan ilmu Fisikanya. Dalam ilmu Fisika pun,
membenarkan bahwa alam semesta kelak akan berakhir dan musnah dengan pelbagai
skenario yang ada baik berupa prediksi maupun spekulasi ilmiahnya. Di akhir
buku tersebut, penulis menutup dalam satu paragraf reflektif yang mengajak
pembaca untuk kembali merenungkan soal eksistensi kita sebagai manusia
“If there is a purpose to the universe, and it achieves that
purpose, then the universe must end, for its continued existence would be
gratuitous and pointless. Conversely, if the universe endures forever, it is
hard to imagine that there is any ultimate purpose to the universe at all. So
cosmic death may be the price that has to be paid for cosmic success. Perhaps
the most that we can hope for is that the purpose of the universe becomes known
to our descendants before the end of the last three minutes.
yang bila diterjemahkan
“Jika alam semesta memiliki suatu tujuan, dan tujuan itu telah tercapai, maka alam semesta harus berakhir, sebab keberlangsungannya setelah itu akan menjadi sesuatu yang tidak perlu dan tanpa makna. Sebaliknya, jika alam semesta berlangsung untuk selamanya, sulit membayangkan bahwa ia memiliki tujuan akhir sama sekali. Oleh karena itu, kematian kosmis mungkin merupakan harga yang harus dibayar demi keberhasilan kosmis. Mungkin harapan terbesar yang dapat kita miliki adalah agar tujuan alam semesta itu menjadi diketahui oleh keturunan kita sebelum berakhirnya tiga menit terakhir.”
Penulis mengajak merenung, bahwa jika segala hal yang ada dunia ini
memiliki tujuan, maka ketika tujuan itu telah tercapai segalanya pasti akan
berakhir. Termasuk alam semesta ini, jika memang alam semesta ini memiliki
tujuan tentu tujuan akhirnya adalah dia akan berakhir/Kiamat. Pada paragraf sebelumnya
penulis menggambarkan tentang seseorang yang memiliki tujuan untuk membuat
sesuatu, katakan misal ingin membuat roti. Maka ketika tujuan dia telah
tercapai/selesai membuat roti, tentunya segala aktivitasnya untuk mencapai
tujuan tersebut pasti berhenti (berhenti mengaduk adonan, berhenti memanggang,
dan sejenisnya). Sama halnya dunia yang fana ini, ketika Allah berkehendak
dunia ini usai maka usai sudah.
Sebagai hamba Allah yang mukminin mempersoalkan kapan Kiamat
itu terjadi bagaikan mencari jarum ditumpukan jerami, melainkan hal sia-sia
yang tidak mungkin ditemukan. Maka sudah sepantasnya kita mengisi proses Allah
menjadikan kita ini dengan sebaik mungkin, mengisi dengan ibadah dan amal
solih, sebab sebagai Mukminin tentu mengetahui, selepas alam semesta ini
berakhir ada babak berikutnya dalam proses alam semesta ini. Yakni hari pembalasan,
hari dimana apa yang telah kita perbuat diminta pertanggung jawabannya kelak di
sisi-NYA.
Sekian semoga dapat memberikan manfaat.
Yogyakarta, 27 Juli 2026
#KataCakAkbar
Lampiran beberapa hadis
1. Hadis dialog Malaikat dan Muhammad ﷺ
soal Iman
بينما
نحن عند رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلم ذاتَ يومٍ إذ طلع علينا رجلٌ شديدُ
بياضِ الثيابِ شديدُ سوادِ الشعرِ ، لا نرَى عليه أثرَ السفرِ ولا نعرفُه ، حتَّى
جلس إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلم فأسند ركبتَه إلى ركبتِه ووضع كفَّيهِ
على فخذِه ثمَّ قال : يا محمدُ أخبرْني عن الإسلامِ ، ما الإسلامُ ؟ قال : أنْ
تشهدَ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهَ وأنَّ محمدًا رسولُ اللهِ وتقيمَ الصلاةِ وتؤتيَ
الزكاةَ وتصومَ رمضانَ وتحجَّ البيتَ إنِ استطعتَ إليه سبيلًا . قال : صدقتَ : قال
عمرُ : فعجِبنا له يسألهُ ويصدقُه . فقال : يا محمدُ أخبرني عن الإيمانِ ما
الإيمانُ ؟ قال : الإيمانُ أنْ تؤمنَ باللهِ وملائكتِه وكتبِه ورسلِه واليومِ
الآخرِ والقدرِ كلِّه خيرِه وشرِّه . قال : صدقتَ . قال : فأخبرني عن الإحسانِ ما
الإحسانُ ؟ قال : أنْ تعبدَ اللهَ كأنك تراهُ فإن لم تكنْ تراهُ فإنه يراكَ . فقال
: أخبرني عن الساعةِ متى الساعةُ ؟ قال : ما المسئولُ عنها بأعلمَ من السائلِ .
فقال : أخبرني عن أماراتِها . قال : أنْ تلدَ الأمةُ ربَّتها وأنْ ترَى الحفاةَ
العراةَ العالةَ رعاءَ الشَّاءِ يتطاولونَ في البناءِ ، قال : ثمَّ انطلقَ الرجلُ
، قال عمرُ : فلبثتُ ثلاثًا ثمَّ قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلم : يا عمرُ
أتدري من السائلُ ؟ قلتُ : اللهُ ورسولُه أعلمُ . قال : فإنه جبريلُ عليه السلامُ
أتاكم يعلِّمَكم دينَكم
HR. Bukhori
2. Hadis soal di akhir zaman Islam hanya tinggal kenangan saja
يَدرُسُ
الإسلامُ كما يدرسُ وَشيُ الثَّوبِ حتَّى لا يدرى ما صيامٌ ولا صلاةٌ ولا نسُكٌ
ولا صدقةٌ ويسرَى على الْكتابِ في ليلةٍ فلا يبقى في الأرضِ منْهُ آيةٌ
يدرس
الإسلام كما يدرس وشي الثوب حتى لا يدرى ما صيام ولا صلاة ولا نسك ولا صدقة،
وليسرى على كتاب الله عز وجل في ليلة فلا يبقى في الأرض منه آية، وتبقى طوائف من
الناس الشيخ الكبير والعجوز يقولون أدركنا آباءنا على هذه الكلمة لا إله إلا الله
فنحن نقولها، فقال له صلة: ما تغني عنهم لا إله إلا الله وهم لا يدرون ما صلاة ولا
صيام ولا نسك ولا صدقة، فأعرض عنه حذيفة، ثم ردها عليه ثلاثا، كل ذلك يعرض عنه
حذيفة، ثم أقبل عليه في الثالثة فقال: يا صلة تنجيهم من النار ثلاثا
HR. Sunan Ibnu Majjah
3. Hadis di akhir zaman perzinaan merajalela sampai berzina di
tengah jalan
والذي نفسي بيدِه لا تَفنى
هذه الأمةُ حتى يقومَ الرجلُ إلى المرأةِ فيفترِشُها في الطريقِ فيكون خيارُهم
يومئذٍ من يقولٌ لو واريتَها وراءَ هذا الحائطِ
HR. Ad-Dailami
.png)
