√ Memaknai (Ulang) Kehidupan: Sebuah Refleksi dari Manusia Berusia Tiga Dasawarsa - Cak Akbar

Memaknai (Ulang) Kehidupan: Sebuah Refleksi dari Manusia Berusia Tiga Dasawarsa

Daftar Isi [Tampil]


    Existential Dread

    Awal September lalu, Cak Akbar kehilangan sosok yang sangat penting dalam hidup penulis, yakni berpulangnya bapak yang bisa dibilang berpulang secara tiba-tiba tanpa mengeluhkan sakit yang menahun atau berfirasat apapun sebelumnya. Namun, dikatakan berpulang secara tiba-tiba pun juga tidak, sebab bapak masih mencoba bertahan selama hampir 3 minggu melawan sakitnya, dengan 1 minggu terakhir beliau dilalui dengan kondisi koma. Alhamdulillah bi idznillah selama dua minggu sadar dan setengah sadar beliau, beliau masih mengerti dan merasakan jika keluarga yang ia cintai, rekan sejawat selama ia berprofesi, dan handai taulan beliau dalam bersosialisasi silih berganti hadir memberi dukungan dan doa yang tulus di ruang ICU dengan jam besuk yang singkat itu.

    Dalam kondisi bapak yang vegetatif seperti itu, doaku tidaklah muluk-muluk meminta mu’jizat ataupun keajaiban medis. Doaku hanya sederhana, “Ya Allah jika bapak engkau qodar sehat, berikanlah bapak kesembuhan dan kesehatan yang barokah dan bermanfaat. Jika bapak engkau qodar kembali kehadirat-MU, bawalah beliau dengan keadaan khusnul khatimah.” Dan, ya, salah satu permintaan do’aku Allah ijabahkan. Menjelang akhir waktunya, beliau hanya mengalami penurunan kesadaran, saturasi oksigen yang kian menurun, irama jantung yang semakin melemah, tanpa ada tanda-tanda mengalami “beratnya kematian”/sakaratul maut. Pun, oleh mamak yang mendekap beliau sembari membisikkan kalimat talqin dan ditutup dengan “wes yo mas, aku wes ikhlas, selamat jalan kita berjumpa lagi”. Bapak -pun berpulang dengan tenang di Rabu siang yang cerah, September itu.

    Beberapa waktu sebelumnya, saya membaca sebuah utas yang bertajuk “Kematian Biologis” tulisan seorang mengutip pemikiran Richard Dawkins yang dikenal sebagai “bapak atheist modern”, sebab pandangan ke-atheist-annya didasari oleh pemikiran yang rasional dan tidak sekedar “tidak percaya Tuhan belaka” melainkan didukung penemuan sains dan refleksi rasional atas penemuan itu.

    Sederhananya, utas tersebut menjelaskan kematian hanya “sekedar” kematian seluruh komponen sel-sel dalam tubuh dan bagi tubuh yang mengalami kematian biologis, ia hanya mengalami ketidak sadaran seutuhnya akan kondisi biologisnya. Lebih sederhana lagi, pembuat utas tersebut menyamakan kematian manusia sama seperti kematian makhluk hidup lainnya (seperti binatang), tidak mempercayai adanya ruh, pun bahkan tidak mempercayai akan adanya hari-hari akhirat. Baginya, kematian itu ya mati saja, sebuah keheningan total yang abadi, sunyi, gelap, dan tidak ada apa-apa lagi setelah itu.

    Seperti biasa, saya tidak pernah menganggap serius tulisan dan pemikiran seperti itu. Bagi saya, hanya angin lewat saja dan tak perlu diambil hati. Namun, melihat bapak yang terbujur kaku (dan membiru), refleksi saya soal kematian kian mendalam. Saya jadi bertanya, “bagaimana rasanya kematian itu?”, “apa betul kematian itu seperti utas yang pernah saya baca beberapa waktu sebelumnya?”. Terlebih saat saya melihat kompilasi foto bapak di album foto keluarga dari waktu ke waktu, saya baru menyadari satu hal, “ya Allah, ternyata bapak saya semakin menua”. Padahal hari dimana beliau berpulang tidaklah genap 6 dasawarsa itu, saya semakin menyadari bahwa saya kelak akan seperti bapak.

    Rasanya baru kemarin, saya diantar bapak sekolah naik Vespa yang asapnya kemapul itu, baru kemarin rasanya saya diantar bapak berangkat nyantri ke Jombang, baru kemarin rasanya bapak ikut menemani saya wisuda, baru kemarin rasanya bapak duduk dipelaminan bersama mamak menemaniku mengikat janji suci dengan pujaan hati, dan baru kemarin rasanya bapak menimang-nimang cucunya, dan baru kemarin rasanya bapak memiliki segudang rencana selepas purna tugasnya. Rasanya, semua itu berasa hanya sekelibat, dan tau-tau bapak sudah kembali ke haribaan-NYA.

    Sehingga, lagi-lagi, saya mengalami kecemasan eksistensi/existential dread “mengapa Allah memberikan umur sebentar sekali?”, “mengapa manusia tidak abadi saja?”, “ya Allah saya pun juga takut mati” dan segudang kecemasan tak berujung soal kehidupan, hingga sampai pada titik, “ya Allah, apakah engkau ada? Apakah akhirat-MU itu nyata?”, “ya Allah saya takut siksa-MU, ya Allah saya berharap surga dan ampunan-MU”.

    Kalender Kosmik dan Persepsi Soal Waktu

    Cak Akbar sendiri, kendati menekuni dan meraih kesarjanaan keilmuan ihwal ekonomi, juga menggemari banyak kajian-kajian keilmuan manusia soal alam semesta, sejarah, fisika, dan ya… keilmuan-keilmuan lainnya yang bisa membawaku semakin bertambah imannya kepada Allah. Soal ilmu alam semesta ini, ada sebuah penelitian soal berapa usia alam semesta kita ini. Poro cendekiawan menyebut angka pasti sebanyak 13,8 miliar tahun dan untuk bumi tempat kita berpijak ini usianya baru 4,5 miliar tahun. Ditanya darimana soal angka pasti itu? Tentu sudah melalui hitung-hitungan yang berdasar aksioma dan hipotesa-hipotesa logis yang diuji oleh poro cendekiawan sepanjang zaman.

    Ada poin menarik soal angka 13,8 miliar dan 4,5 miliar tahun ini, di penghujung dekade 60-an ada seorang astronom filosofis Carl Sagan. Ia menggambarkan waktu 13,8 miliar sampai hari ini dengan memadatkannya menjadi dalam 1 tahun kalender (Januari-Desember), yang ia sebut kalender kosmik. Bayangkan, saat alam semesta ini tercipta saat dentuman besar/big bang itu terjadi saat detik pertama 1 Januari itu. Kemudian dari Januari hingga September tidak terjadi apa-apa, kesunyian, kekosongan, dan kehampaan. Barulah, pada September, bumi kita ini baru saja terbentuk dan tercipta. dan tepat pada beberapa detik di penghujung 31 Desember itu, segalanya di bumi terjadi… Makhluk hidup pertama, era Jurasik dan Triasik (era dinosaurus hidup), terjadi kepunahan masal dengan jatuhnya meteor berdiamter 21 kilometer yang menghantam bumi, dan rekahan kawahnya menjadi kawah Chicxulub, munculnya manusia, zaman batu, zaman perunggu, zaman besi, zaman kerjaan-kerajaan, zaman kenabian, zaman manusia perang dunia I dan II, zaman teknologi, sampai era Akal Imitasi (AI) hari ini.

    Ya, semua hal yang terjadi di bumi jika dihitung dengan kalender kosmikm, baru terjadi seper-sekian detik sebelum 31 Desember berakhir.

    Di titik pemikiran inilah saya sering terdiam, dan terkadang mengalami kecemasan eksistensi yang saya jelaskan di awal, perasaan ngeri, sedih, sekaligus bingung. Saat kita menyadari betapa sangat-sangat-sangat singkatnya jatah waktu kita di tengah semesta yang usianya sudah miliaran tahun ini. Mari kita bedah ini bersama-sama, coba kita paksa sedikit pikiran kita lalu kita bandingkan dengan posisi kita sendiri. Rata-rata manusia hari ini diberi waktu 60 tahun, 80 tahun? Ya, kalau beruntung dan sehat mungkin bisa menyentuh 90 tahun. Sekarang kalau kita jajarkan angka 80 tahun itu (misal) dengan 13,8 miliar tahun, hidup kita ini, semua ambisi dan masalah kita, rasanya bahkan tidak punya hak untuk disebut sebagai sebutir debu di lautan waktu. Bahkan istilah sekejap kedipan mata secara harfiah masih terlalu lama untuk mendeskripsikan betapa sangat sangat-sangat-singkatnya kita numpang lewat di semesta ini.

    Meretropeksi persepsi soal waktu, di usia 20-an kita masih babak belur, kebingungan mencari jadi diri. Di usia 30-an sampai 40-an, kita jatuh bangun belajar dari banyak sekali kesalahan hidup. Lalu di usia 50 atau 60-an ketika kita mungkin baru saja mulai mengerti makna hidup yang sebenarnya, ketika ego kita sudah mereda dan kita baru saja menemukan kebijaksanaan, lalu tiba-tiba tubuh kita menua, organ dalam kita melemah, sendi-sendi kita rapuh dan bom kita mati selesai. Disitulah, poin yang terkadang membuat Cak Akbar merenung, kalau skenarionya cuma sekedar numpang lahir, jadi tua lalu mati, lalu apa poinnya dari semua kerumitan pikiran dan perasaan ini? Jujur saja, ada masa-masa di mana saya merasa skenario ini sangat tidak adil. “Ya Allah, ini terlalu sebentar”. Rasanya kita baru saja pemanasan, baru saja paham sedikit cara mainnya dunia ini, tapi tahu-tahu waktu kita sudah mau habis.

    Memaknai (Ulang) Kehidupan: Mengapa Kita Hidup Hanya Sebentar (dan Sementara)

    Setidaknya, dalam keyakinan Islam dan Iman yang saya anut, sudah barang tentu jawaban soal mengapa Allah menciptakan kita semua adalah semata-mata untuk beribadah, sebagaimana Firman-NYA

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

    (QS. Adz-Dzariyat: 56)

    Namun, meninjau soal kehidupan manusia dan persepsi soal waktu, saya jadi bertanya “mengapa orang iman tidak Allah berikan waktu 1000 tahun untuk beribadah?” “kenapa bapak, yang kami sekeluarga saksikan banyak berbuat kebajikan dan amal soleh harus berpulang secepat itu?” “kenapa ada tetangga yang kami kenal gemar mabuk dan berjudi serta tidak memberikan nafkah kepada keluarga diberikan umur panjang?”.

    Tentu, memaknai soal kehidupan akan ada beragam sudut pandang soal itu, namun, dalam hal ini saya mencoba memaknai ulang kehidupan yang fana dan sementara ini.

    Setidaknya, coba kita pinjam sudut pandang dari psikologi dan ilmu ekonomi dasar tentang konsep kelangkaan atau scarity. Pernahkah Anda memikirkan apa sebenarnya yang membuat seonggok emas atau sebongkah berlian itu bernilai sangat mahal? Jawabannya sederhana, karena mereka langka, susah didapat. Sekarang coba bandingkan dengan udara yang kita hirup sekarang ini. Secara fungsi udara itu triliunan kali lipat lebih krusial untuk hidup kita daripada emas. Tanpa emas kita tetap hidup. Tapi tanpa udara 3 menit saja otak kita akan mati. Pertanyaannya, seberapa sering kita benar-benar menghargai udara? Seberapa sering kita berterima kasih atas setiap tarikan nafas kita? Sangat jarang. Kenapa? Karena udara ada di mana-mana. Ia seolah-olah tidak terbatas. Hukum alamnya memang begitu.

    Sesuatu yang durasinya atau jumlahnya tidak terbatas perlahan-lahan akan kehilangan urgensinya. Ia kehilangan nilainya. Sekarang coba kita tarik konsep itu ke dalam skala kehidupan. Bayangkan, seandainya manusia didesain untuk hidup selamanya di bumi. Seandainya kematian itu tidak pernah ada di dalam sistem biologi kita. Kira-kira apakah kitamasih punya dorongan yang kuat untuk bangun pagi ini demi mengejar mimpi-mimpi kita? Apakah kita akan bersegera pulang memeluk orang tua atau pasangan kita dan mengatakan bahwa aku sangat mencintai mereka hari ini juga? Kemungkinan besar tidak,  kita akan santai saja. Kita akan menunda segalanya. Kita mungkin akan bergumam. “Ah, enggak usah buru-buru, masih ada 1 juta tahun lagi untuk bilang maaf.” “Masih ada miliaran tahun lagi untuk memperbaiki diri dan mengejar target”.  Kalau waktu kita tidak terbatas, kita tidak akan pernah melakukan apa-apa.

    Kematian, adalah batas waktu yang sangat sempit dan sering kita takuti itu bukanlah kutukan. Kematian adalah mesin utama yang memproduksi makna. Ia adalah tenggat waktu mutlak yang memaksa kita untuk menyortir hidup, memaksa kita untuk memilih dengan cepat mana yang benar-benar penting untuk dipertahankan dan membuang apa yang sekedar sampah atau hal-hal yang tidak penting. Justru karena waktu kita sangat sedikit, rasa cinta menjadi teramat berharga. Justru karena waktu kita terbatas, sebuah pengorbanan memiliki nilai yang sangat tinggi. Keterbatasan itulah ironisnya yang menjadi dorongan paling kuat bagi manusia untuk menciptakan seni, membangun peradaban, saling menyayangi, dan pada puncaknya mencari Tuhan.

    Memaknai (Ulang) Kehidupan: Allah Sudah Menjawab Semua Itu dalam Firman-NYA

    Dari pemahaman tentang kelangkaan tadi, ada satu hal yang selalu membuat saya takjub, terutama dalam kapasitas saya sebagai seorang Muslim. Yang paling menarik adalah melihat bagaimana Al-Qur'an sebuah teks yang turun di abad ke-7 di tengah padang pasir ternyata begitu jujur, brutal, tapi sangat akurat dalam memvalidasi perasaan keterkejutan manusia tentang waktu ini. Kalau kita baca pelan-pelan, Al-Qur'an itu tidak pernah basa-basi menjanjikan bahwa hidup di dunia ini akan panjang. Tidak pernah sama sekali. Sebaliknya, Al-Qur'an justru berulang kali menggunakan metafora yang sangat spesifik untuk menggambarkan betapa ekstrem singkatnya dunia ini kalau dilihat dari perspektif akhirat atau dari dimensi yang lebih tinggi. Perhatikan Firman Allah berikut ini,

    وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَن لَّمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِّنَ النَّهَارِ

    “Dan (ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan mereka hanya tinggal (di dunia) sesaat saja pada siang hari”

    QS. Yunus: 45

    Di sana Allah menggambarkan sebuah adegan kelak di hari ketiga seluruh manusia dikumpulkan dan di momen itu manusia merasa seakan-akan mereka tidak pernah berdiam di dunia kecuali hanya sesaat saja pada siang hari. Atau coba dengar dialog eksistensial yang luar biasa di surah Almukminun. Di sana diceritakan manusia ditanya, “Berapa tahun lamanya kalian tinggal di bumi? Lalu apa jawaban mereka? Mereka tidak menjawab 60 tahun, 80 tahun, atau 1000 tahun. Mereka kebingungan dan menjawab, “Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari saja. Maka tanyakanlah kepada mereka yang pandai menghitung.”

    قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ

    قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ

    QS. Al-Mukminun: 112-113

    Mari kita resapi makna kalimat ini. Bukan puluhan tahun, tapi sehari atau setengah hari, bahkan hanya sesaat di waktu siang.

    Memaknai (Ulang) Kehidupan: Apakah Adil, Jika Kehidupan yang Sebentar dan Sementara ini Menentukan Keabadian?

    Jika pembaca sampai pada babak tulisan ini, pada akhirnya kita melihat puluhan tahun kehidupan manusia dibandingkan dengan kalender kosmik tadi, benar-benar terasa seperti satu tarikan nafas di sore hari. Jujur saja ini justru memunculkan satu pertanyaan kritis yang baru. Sebuah pertanyaan yang setidaknya bagi saya pribadi sering membuat saya mengerutkan dahi. Pertanyaannya begini. Kalau hidup ini terasa cuma setengah hari, kalau ini cuma ujian sekilas, apakah adil jika hasilnya menentukan nasib kita untuk selama-lamanya? Keabadian. Bagaimana bisa ujian yang durasinya cuma 60 tahun ini menentukan konsekuensi yang tidak terhingga? Coba kita hitung pakai logika matematika sebentar. Angka 60 kalau dibagi dengan tak terbatas itu hasilnya adalah 0. Artinya secara matematis kita ini pada dasarnya sedang diuji dalam waktu 0 detik untuk mendapatkan hasil yang berlaku selamanya. Bukankah ini terdengar sangat tidak proporsional? Bahkan kalau mau jujur terdengar agak tidak adil.

    Ternyata Allah itu tidak menghitung durasi kuantitas kita berbuat baik atau buruk. yang Allah nilai bukanlah seberapa lama waktunya, melainkan trajektory atau sudut kemiringan dari jiwa kita. Untuk mudahnya, coba bayangkan, Anda memegang sebuah alat penembak sinar laser. Lalu Anda tembakkan sinarnya lurus ke luar angkasa yang luasnya tidak terbatas. Perhatikan baik-baik di titik awalnya yaitu bumi. Kalau posisi laser itu Anda geser sudutnya cuma 1 derajat saja di titik tembaknya, mungkin di meter-meter pertama perbedaannya belum terasa.

     



    Tapi semakin jauh sinar itu berjalan melintasi luar angkasa, penyimpangannya akan semakin melebar, melebar, dan terus melebar hingga melenceng jutaan tahun cahaya dari target aslinya. Nah, dunia yang usianya cuma 60 tahun ini adalah titik awal penembakan laser tersebut. Tujuan kita di dunia ini bukan tentang seberapa jauh Anda bisa berjalan, bukan. Tapi ke arah mana Anda mengarahkan niat, hati, serta kesadaran Anda.


    Sebagaimana penjelasan seorang Ulama terdahulu, Ibnul Qoyyim Al-Jauzi dalam Kitab Al-Fawaidh

    فَإِذَا طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ كَانَ طُولُ سَفَرِهِ زِيَادَةً لَهُ فِي حُصُولِ النَّعِيمِ وَاللَّذَّةِ، ... وَإِذَا طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ كَانَ طُولُ سَفَرِهِ زِيَادَةً فِي أَلَمِهِ وَعَذَابِهِ وَنُزُولًا لَهُ إِلَى أَسْفَلَ.

    “Apabila umurnya panjang dan amalnya baik, maka panjangnya perjalanan itu menjadi tambahan baginya dalam memperoleh kenikmatan dan kebahagiaan. Namun apabila umurnya panjang sementara amalnya buruk, maka panjangnya perjalanan itu menjadi tambahan bagi rasa sakit dan azabnya serta membuatnya semakin turun ke tempat yang lebih rendah.”

    Sederhananya, beliau hendak menjelaskan bahwa jika ada seorang manusia yang hatinya sudah tertutup rapat, dipenuhi kesombongan dan penolakan mutlak terhadap Allah, seandainya orang tersebut diberi umur 1 juta tahun pun di bumi, dia akan tetap membangkang selama 1 juta tahun itu. Penambahan waktu tidak akan mengubah hatinya. Begitu pulah sebaliknya. Orang yang jiwanya tulus, yang hatinya selalu mencari kebenaran dan kebaikan, seandainya dia diberi hidup abadi di bumi, dia akan tetap memilih untuk berbuat baik selamanya. Karena trajektori jiwanya memang sudah mengarah ke sana. Jadi, kalau kita renungkan lagi, waktu 60 tahun itu sebenarnya sudah sangat-sangat lebih dari cukup untuk membuktikan kualitas dari jiwa kita. Kita tidak butuh waktu tambahan untuk membuktikan siapa diri kita yang sebenarnya. Kedipan mata kehidupan ini pada akhirnya hanyalah sebuah tempat di mana kita mengatur letak koordinat kompas jiwa kita sebelum akhirnya kita dilepaskan sepenuhnya ke lautan keabadian. Arah mana yang sedang Anda tuju sekarang? Karena ke sanalah kita akan melangkah selama-lamanya.

    Memaknai (Ulang) Kehidupan: Apakah Kehidupan Setelah Kematian itu Ada

    Seperti yang cak Akbar gelisahkan di awal, soal apakah kematian itu hanya sekedar “kematian biologis saja”?  apakah kehidupan yang abadi setelah kematian itu ada? Menurut cak Akbar dalam memaknai ulang soal ini, ada satu analogi filosofis yang sangat indah dan logis untuk merangkum semua kebingungan kita tentang kematian. Dan singkatnya hidup ini sering disebut sebagai analogi rahim.

    Mari kita turunkan ego kita sejenak. Dan bayangkan, kita adalah dua orang bayi kembar yang sedang berada di dalam rahim seorang ibu, katakan ada Bayi A dan Bayi B. Bagi dua bayi ini, rahim yang gelap, hangat, dan sempit itu adalah seluruh alam semesta. Mereka tidak tahu ada apapun di luar sana. Tali pusar adalah sumber segala kehidupan mereka. Bayangkan, bayi A adalah bayi yang skeptis dan bayi B adalah bayi yang percaya.

    Kita buat dialog imajinatif seperti ini, Bayi A berkata, “Apakah kamu percaya ada kehidupan setelah rahim ini?” Bayi B menjawab, “Tentu saja di luar sana pasti ada tempat yang lebih luas. Kita sedang tumbuh di sini supaya kuat saat kita keluar nanti.” Bayi A hanya tertawa. “Omong kosong, tidak ada yang pernah kembali dari luar sana. Rahim ini adalah satu-satunya dunia. Dan sebentar lagi tali besar kita akan putus dan kita akan mati berakhir tidak ada apa-apa lagi.” Lalu bayi B berkata lagi, “Coba kamu rasakan kenapa kita menumbuhkan mata di sini? Gelap gulita. Mata ini tidak berguna. Kenapa kita menumbuhkan kaki? Kita tidak bisa berjalan di dalam cairan ini. Kenapa kita menumbuhkan paru-paru? Kita bahkan tidak bernafas dengan udara di sini. Pasti semua organ ini diciptakan untuk suatu dimensi lain yang belum bisa kita pahami.” Namun, Bayi A tetap tidak percaya sampai akhirnya kontraksi terjadi. Dinding alam semesta mereka menekan, memaksa mereka keluar. Bagi si bayi, proses kelahiran itu adalah kematian dari dunia rahim. Dia menangis kencang, ketakutan luar biasa. Tapi apa yang sebenarnya terjadi saat dia keluar? Dia melihat cahaya. Dia melihat wajah ibunya. Dia bisa bernafas menggunakan paru-parunya. Matanya menangkap warna. Kakinya akan siap untuk berlari di padang rumput yang luasnya jutaan kali lipat dari rahim. Kematian dari rahim ternyata adalah kelahiran menuju realitas yang sesungguhnya.

    Poro sedulur, bukankah kita persis seperti bayi itu? Kita sekarang sedang berada di rahim bernama dunia. Kita mengeluh kenapa kita menua. Kita ketakutan setengah mati menghadapi kematian. Kita lupa bahwa hidup yang sebentar dan sementara ini, kedipan mata ini hanyalah masa gestasi atau masa kehamilan. Bumi ini bukan tempat tinggal kita yang sebenarnya. Ini adalah tempat pembentukan organ kita. Amal, kesabaran, cinta kasih, ibadah, rasa syukur, tangisan saat kita memohon ampun di sepertiga malam. Semua itu adalah mata, kaki, dan paru-paru spiritual yang sedang kita bentuk susah paya di dalam rahim yang gelap ini. Agar nanti ketika kontraksi kematian itu tiba dan menekan kita keluar dari dimensi waktu ke dimensi keabadian, kita tidak lahir dalam keadaan cacat spiritual. Kita siap melihat cahaya sang pencipta dengan mata batin yang sudah selesai kita bentuk di dunia.

    Penutup

    Poro sedulur, janganlah melihat rentang hidup manusia yang sangat pendek ini sebagai sebuah garis lurus yang tiba-tiba terputus begitu saja. Tapi kalau kita mau melihat selangkah lagi dengan logika spiritual yang rasional, rentang hidup manusia yang begitu singkat ini sama sekali bukanlah sebuah error dari alam semesta. Ini bukanlah kelakuan Allah/Tuhan yang sedang iseng melihat makhluknya kebingungan.

    Justru, kelemahan fisik kita, kerapuan sel-sel tubuh kita yang rentat penyakit, rambut yang perlahan memutih, energi yang tidak lagi sekuat waktu muda, itu bukan sekedar proses biologis biasa. Itu adalah alarm yang sengaja dirancang dengan kasih sayang yang ekstrem. Sebuah pengingat lembut yang terus-menerus berbisik di telinga kita. “Hei, jangan bangun rumah permanen di atas jembatan persinggahan, kamu akan segera pulang.” Pada hakikatnya kita ini adalah makhluk abadi. Kita hanya kebetulan saja sedang mengenakan pakaian bernama tubuh manusia yang memang sangat mudah rusak ini.

    Selama beberapa dekade ke depan. Sadarilah satu hal, Anda tidak didesain untuk selesai di sini. Waktu 60 atau 80 tahun ini mungkin memang cuma sekejap. Ibarat satu tarikan nafas di waktu siang bolong. Tapi perhatikan baik-baik. Satu tarikan nafas di dunia inilah yang akan menentukan seberapa lega kita bernafas untuk selama-lamanya nanti. Setiap rasa sakit yang Anda tahan-tahan demi tetap berada di jalan yang benar, setiap tetes keringat yang jatuh untuk menafkahi keluarga dengan cara yang halal dan jujur, setiap ego yang terpaksa Anda telan bulat-bulat hanya untuk memaafkan kesalahan orang lain. Percayalah itu semua bukan kesia-siaan. Itu semua tidak akan ikut hancur di telan tanah saat Anda mati nanti. Sama sekali tidak. Itu adalah bata demi bata yang sedang Anda susun dengan susah payah hari ini untuk membangun rumah Anda yang sesungguhnya di luar sana di dimensi berikutnya.

    Maka biarkanlah, biarkan hidup di dunia ini berjalan secepat kedipan mata. Tapi pastikan ketika mata itu berkedip penutup di dunia dan terbuka, kembali di dimensi yang baru nanti, Anda melihat sebuah pemandangan yang membuat Anda tersenyum sangat lebar. Dan di momen itulah Anda mendengar sebuah panggilan halus yang selama ini diam-diam paling dirindukan oleh jiwa Anda.

    يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
    ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
    فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
    وَادْخُلِي جَنَّتِي

    “Wahai jiwa yang tenang!
    Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.
    Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,
    dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

    QS. Al-Fajr: 27-30.

    Sekian, semoga ada manfaatnya

     

    Yogyakarta, 23 September 2026

    #KataCakAkbar

     

    كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

    “Jadilah engkau di dunia seakan-akan engkau seorang asing atau seorang musafir yang sedang dalam perjalanan.”

    HR. Bukhori


     

     


    Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

    Hai

    Klik Kontak Whatsapp Di Bawah Ini Untuk Mulai Mengobrol

    Pemilik Cak Akbar
    +6282136116115
    Call us to +6282136116115 from 0:00hs a 24:00hs
    Hai, ada yang bisa saya bantu?
    ×
    Tanya Kami